Jumat, 06 Januari 2017

Prof .Said Agil Hasan Al Munawar MA: Pakar Tafsir Asal Indonesia yang Mengabdikan Hidupnya Untuk Al Quran dan Bangsa


          
            Di zaman yang serba mengandalkan kecanggihan teknologi serta persaingan ekonomi yang terjadi dimana mana ini seakan-akan membuat kehadiran agama kurang diperhatikan oleh masyarakat. Kekaguman terhadap teknologi yang makin baru (update) dan penggunaan media yang semakin marak digunakan seperti menggeser ketertarikan masyarakat untuk lebih mendalami ilmu-ilmu Agama yang tersebar di seluruh Indonesia ini. Al quran terasa kering dirasa !
            Begitulah sekiranya sedikit gambaran dari keprihatinan yang datang dari benak Prof.Said Agil Hasan Munawwar M.A. seorang Pakar Tafsir, sekaligus mantan Menteri Agama asal Kampung Ulu, Palembang. Beliau menjelaskan bahwa Agama memiliki peran dan konstribusi yang penting bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya penyebab terjadinya konflik dan perpecahan yang terjadi di negeri ini disebabkan kedangkalan pemahaman tentang agama yang dimiliki masyarakat itu sendiri.
            Prof.Said Agil Hasan Munawwar adalah seorang ilmuwan muslim yang banyak memberikan konstribusi dan sumbangan bagi kemajuan bangsa ini khususnya dalam bidang pendidikan agama.          


Pendidikan yang Diperoleh

Said Agil Hasan Munawwar adalah seorang ahli tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh , seorang qari, Hafidz Quran, guru besar dan seorang mubaligh yang sudah diakui kadar keilmuannya di tanah Indonesia ini.
            Said Agil menempuh pendidikan tinggi nya di fakultas syariah IAIN Raden Fatah Palembang, dan mendapat beasiswa selama beberapa bulan serta meraih gelar sarjana muda tahun 1974 dengan predikat cumlaude. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Madinah. Waktu itu Raja Faisal yang meninggal pada tahun 1975 menawarkan beasiswa kepada 5 orang di Indonesia dan Said merupakan salah satu dari kelima orang tersebut.
            Merasa belum puas belajar disana, Said melanjutkan pendidikan S2 nya di Universitas King Abdul Aziz di Mekkah (yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Ummu al-Qura). Ujian masuk ke Universitas tersebut sangat ketat namun alhamdulillah Said melewatinya dengan gemilang, ia lulus master of art 1983 dan melanjutkan mengambil S3 atas berbagai pertimbangan dan saran dari guru-gurunya. Akhirnya tahun 1987 ia memperoleh gelar Ph.D dengan spesialis hukum Islam.


Hubungan Erat Antara Said Agil Munawwar dengan Syekh Yasin Al 
Fadani

           Layaknya seorang yang haus terus menerus akan Ilmu, Ketika sedang berada di Mekah, Said tidak melulu belajar di dalam ruang perkuliahan saja. Said terkadang keluar tekun menggali Ilmu dari para syekh dan Habaib yang tidak diragukan lagi kadar keilmuannya di kalangan masyarakat Mekkah pada saat itu. Tokoh-tokoh seperti Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf, sayyid Muhammad bin Alwy Al maliky dan syekh Yasin Al Fadani merupakan sebagian dari sekian banyak guru yang pernah ia gali Ilmunya.
            Diantara kesekian banyak itu Syekh Yasin Al Fadani lah yang dirasa paling erat hubungannya dengan said. Ketika Said agil mengalami kesulitan dalam memahami materi kuiah yang diberikan di kampusnya, ia selalu berlari ke tempat pengajian syekh Yasin al Fadani berada, tentunya untuk meminta pemahaman yang lebih jelas lagi kepada beliau. Kedekatan hubungan yang mereka miliki membuat said agil diminta untuk mengajar di Darul Ulum, yakni madrasah yang syekh Yasin pimpin sendiri, Said mengajar selama 4 tahun disana.
            Syekh Yasin Al Fadani merupakan guru yang sangat ia kagumi, Kadang dalam penelitiannya, Said Agil menemukan hadits-hadits yang ia tak ketahui siapa yang meriwayatkannya. Jika mendapatkan kesulitan seperti itu, Ia segera mendatangi Syaikh Yasin. Dan baru saja duduk, syaikh Yasin sudah tahu.
“Agil ente punya musykilah (kesulitan),ya?”
“Ya, ada hadits-hadits yang belum ditemukan siapa yang meriwayatkannya”
Ia pun membacakan hadits hadits yang dimaksud
“Besok pagi kesini. Nanti malam ana tanya dulu kepada Rasulullah.”
Habib Said Agil kaget mendengarnya. Untuk meyakinkan, Ia bertanya,”Bertanya kepada siapa, Syekh?”
“Kepada Rasulullah” katanya menegaskan
Keesokan harinya ketika ia datang, Syaikh Yasin sudah dapat menyebutkan siapa yang meriwayatkannya dan di kitab apa adanya hadits tersebut.


Pengabdiannya terhadap Bangsa dan Al Quran
            
            Sekembalinya ke Indonesia Said Agil sempat ditawari sebagai Diplomat oleh Duta besar melalui konjen Ahmad Nur. Said Agil tidak langsung menerimanya, Ia berpikir dan bertanya kepada dirinya “ Jika ia menjadi diplomat , mau dikemanakan Ilmunya?”. Setelah berbagai pertimbangan dan masukan termasuk masukan dari menteri Agama pada saat itu ,yakni Munawwir Sadjali-yang seketika pada saat itu menyuruh Said Agil sendiri untuk tidak menerima tawaran tersebut- maka Said Agil pada saat itu dengan tegas menolak tawaran tersebut.
             Menteri Agama memintanya tinggal di Jakarta, lalu mengikuti pendaftaran kepegawaian pada bulan Desember. Bulan Maret SK Kepegawaiannya sudah keluar. Karena yang mengurus Menteri. Pada tahun 1989 ia dipercaya di IAIN Jakarta sebagai dosen tetap untuk memikirkan berdirinya sebuah jurusan baru yaitu Tafsir Hadits. Said Agil ketika itu bersama kawan yang lainnya di IAIN Jakarta bersama-sama mendirikan jurusan Tafsir Hadits di IAIN Jakarta yang pada saat itu belum ada di kawasan kampus.
            Jurusan Tafsir Hadits ini ia pegang dan kembangkan terus hingga menjadi jurusan yang paling diminati di IAIN pada saat itu. Rata-rata lulusan terbaik di kampus berasal dari jurusan ini. Said Agil mengamalkan sepenuhnya Ilmu-ilmu yang ia dapat dari perantauannya di Mekkah, Semangat mengajarnya tak pernah padam, Ulumul Quran yang ia peroleh di Mekkah ia alirkan menuju Indonesia. Di Indonesia, Said Agil merupakan tokoh penting agama khususnya dalam bidang Al Quran yang dikenal oleh banyak kalangan, terutama mahasiswa pada saat ini.
            Sebelum menjadi menteri Agama pada kabinet Gotong Royong, Said pernah menggantikan posisi Harun Nasution sebagai Direktur pascasarjana. Banyak sekali konstribusi yang diberikan said agil bagi kemajuan IAIN Jakarta pada saat itu. Setelah selesai menjabat sebagai Menteri Agama Said agil lebih memfokuskan dirinya mengabdi untuk pendidikan di Indonesia. Said melanjutkan mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia.
            Selain menjadi dosen tetap di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ia juga mengajar di berbagai perguruan tinggi lain seperti dosen pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Sumatera Barat, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Menjadi Rektor Institut Agama Islam Jami’at khaer (1997) , ketua Jurusan Tafsir Hadits Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ)(tahun 1990-sekarang), dosen di Institut Ilmu Al Quran (IIQ)(tahun 1990-sekarang), Dosen di Darul Ma’rif (tahun1992-sekarang) dan di mahad ali pondok pesantren salafiyah situbondo(1993-sekarang).
            Ilmunya sudah tersebar di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia, Pengabdiannya tidak diragukan, Said Agil orangnya diterima semua golongan, enak untuk diajak bercakap-cakap, lembut, daya hafalan Qurannya benar-benar terjaga, suaranya merdu ,ah,,,.intinya Al Quran serasa hidup jika memandang beliau ini.       
                                                  

 Disusun oleh : Tubagus Syafiq

                    

3 komentar:

  1. اللهم افتح علينا فتوح العارفين وفقهنا في الدين وعلمنا التفسير والتأويل.
    Yang nyusun keren, saudara syafiq barakallah lah.

    BalasHapus
  2. Wih ,, guru besar fakultasku , (y) d uin syarif

    BalasHapus