Begitulah
sekiranya sedikit gambaran dari keprihatinan yang datang dari benak Prof.Said
Agil Hasan Munawwar M.A. seorang Pakar Tafsir, sekaligus mantan Menteri Agama
asal Kampung Ulu, Palembang. Beliau menjelaskan bahwa Agama memiliki peran dan
konstribusi yang penting bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya penyebab
terjadinya konflik dan perpecahan yang terjadi di negeri ini disebabkan kedangkalan
pemahaman tentang agama yang dimiliki masyarakat itu sendiri.
Prof.Said
Agil Hasan Munawwar adalah seorang ilmuwan muslim yang banyak memberikan
konstribusi dan sumbangan bagi kemajuan bangsa ini khususnya dalam bidang pendidikan
agama.
Pendidikan
yang Diperoleh
Said Agil Hasan Munawwar
adalah seorang ahli tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh , seorang qari, Hafidz
Quran, guru besar dan seorang mubaligh yang sudah diakui kadar keilmuannya di
tanah Indonesia ini.
Said Agil menempuh pendidikan tinggi nya di fakultas syariah IAIN Raden Fatah
Palembang, dan mendapat beasiswa selama beberapa bulan serta meraih gelar
sarjana muda tahun 1974 dengan predikat cumlaude. Setelah itu ia melanjutkan
pendidikannya di Universitas Islam Madinah. Waktu itu Raja Faisal yang
meninggal pada tahun 1975 menawarkan beasiswa kepada 5 orang di Indonesia dan
Said merupakan salah satu dari kelima orang tersebut.
Merasa
belum puas belajar disana, Said melanjutkan pendidikan S2 nya di Universitas
King Abdul Aziz di Mekkah (yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Ummu
al-Qura). Ujian masuk ke Universitas tersebut sangat ketat namun alhamdulillah
Said melewatinya dengan gemilang, ia lulus master
of art 1983 dan melanjutkan mengambil S3 atas berbagai pertimbangan dan
saran dari guru-gurunya. Akhirnya tahun 1987 ia memperoleh gelar Ph.D dengan
spesialis hukum Islam.
Hubungan
Erat Antara Said Agil Munawwar dengan Syekh Yasin Al
Fadani
Layaknya seorang yang haus terus menerus akan Ilmu, Ketika sedang berada di Mekah, Said
tidak melulu belajar di dalam ruang perkuliahan saja. Said terkadang keluar
tekun menggali Ilmu dari para syekh dan Habaib yang tidak diragukan lagi kadar
keilmuannya di kalangan masyarakat Mekkah pada saat itu. Tokoh-tokoh seperti
Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf, sayyid Muhammad bin Alwy Al maliky dan syekh
Yasin Al Fadani merupakan sebagian dari sekian banyak guru yang pernah ia gali
Ilmunya.
Diantara
kesekian banyak itu Syekh Yasin Al Fadani lah yang dirasa paling erat
hubungannya dengan said. Ketika Said agil mengalami kesulitan dalam memahami
materi kuiah yang diberikan di kampusnya, ia selalu berlari ke tempat pengajian
syekh Yasin al Fadani berada, tentunya untuk meminta pemahaman yang lebih jelas
lagi kepada beliau. Kedekatan hubungan yang mereka miliki membuat said agil
diminta untuk mengajar di Darul Ulum, yakni madrasah yang syekh Yasin pimpin
sendiri, Said mengajar selama 4 tahun disana.
Syekh
Yasin Al Fadani merupakan guru yang sangat ia kagumi, Kadang dalam
penelitiannya, Said Agil menemukan hadits-hadits yang ia tak ketahui siapa yang
meriwayatkannya. Jika mendapatkan kesulitan seperti itu, Ia segera mendatangi
Syaikh Yasin. Dan baru saja duduk, syaikh Yasin sudah tahu.
“Agil ente punya musykilah (kesulitan),ya?”
“Ya, ada hadits-hadits yang belum ditemukan siapa yang
meriwayatkannya”
Ia pun membacakan hadits hadits yang dimaksud
“Besok pagi kesini. Nanti malam ana tanya dulu kepada
Rasulullah.”
Habib Said Agil kaget mendengarnya. Untuk meyakinkan,
Ia bertanya,”Bertanya kepada siapa, Syekh?”
“Kepada Rasulullah” katanya menegaskan
Keesokan harinya ketika ia datang, Syaikh Yasin sudah
dapat menyebutkan siapa yang meriwayatkannya dan di kitab apa adanya hadits
tersebut.
Pengabdiannya
terhadap Bangsa dan Al Quran
Sekembalinya
ke Indonesia Said Agil sempat ditawari sebagai Diplomat oleh Duta besar melalui
konjen Ahmad Nur. Said Agil tidak langsung menerimanya, Ia berpikir dan
bertanya kepada dirinya “ Jika ia menjadi diplomat , mau dikemanakan Ilmunya?”.
Setelah berbagai pertimbangan dan masukan termasuk masukan dari menteri Agama
pada saat itu ,yakni Munawwir Sadjali-yang seketika pada saat itu menyuruh Said
Agil sendiri untuk tidak menerima tawaran tersebut- maka Said Agil pada saat
itu dengan tegas menolak tawaran tersebut.
Menteri Agama memintanya tinggal di Jakarta,
lalu mengikuti pendaftaran kepegawaian pada bulan Desember. Bulan Maret SK
Kepegawaiannya sudah keluar. Karena yang mengurus Menteri. Pada tahun 1989 ia
dipercaya di IAIN Jakarta sebagai dosen tetap untuk memikirkan berdirinya
sebuah jurusan baru yaitu Tafsir Hadits. Said Agil ketika itu bersama kawan
yang lainnya di IAIN Jakarta bersama-sama mendirikan jurusan Tafsir Hadits di
IAIN Jakarta yang pada saat itu belum ada di kawasan kampus.
Jurusan
Tafsir Hadits ini ia pegang dan kembangkan terus hingga menjadi jurusan yang
paling diminati di IAIN pada saat itu. Rata-rata lulusan terbaik di kampus
berasal dari jurusan ini. Said Agil mengamalkan sepenuhnya Ilmu-ilmu yang ia
dapat dari perantauannya di Mekkah, Semangat mengajarnya tak pernah padam, Ulumul Quran yang ia peroleh di Mekkah
ia alirkan menuju Indonesia. Di Indonesia, Said Agil merupakan tokoh penting
agama khususnya dalam bidang Al Quran yang dikenal oleh banyak kalangan,
terutama mahasiswa pada saat ini.
Sebelum
menjadi menteri Agama pada kabinet Gotong Royong, Said pernah menggantikan
posisi Harun Nasution sebagai Direktur pascasarjana. Banyak sekali konstribusi
yang diberikan said agil bagi kemajuan IAIN Jakarta pada saat itu. Setelah
selesai menjabat sebagai Menteri Agama Said agil lebih memfokuskan dirinya
mengabdi untuk pendidikan di Indonesia. Said melanjutkan mengajar di berbagai
perguruan tinggi Islam di Indonesia.
Selain
menjadi dosen tetap di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ia juga mengajar di
berbagai perguruan tinggi lain seperti dosen pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Sumatera Barat, IAIN Sunan Ampel
Surabaya. Menjadi Rektor Institut Agama Islam Jami’at khaer (1997) , ketua
Jurusan Tafsir Hadits Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, dosen di Perguruan
Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ)(tahun 1990-sekarang), dosen di Institut Ilmu Al
Quran (IIQ)(tahun 1990-sekarang), Dosen di Darul Ma’rif (tahun1992-sekarang)
dan di mahad ali pondok pesantren salafiyah situbondo(1993-sekarang).
Ilmunya
sudah tersebar di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia, Pengabdiannya
tidak diragukan, Said Agil orangnya diterima semua golongan, enak untuk diajak
bercakap-cakap, lembut, daya hafalan Qurannya benar-benar terjaga, suaranya
merdu ,ah,,,.intinya Al Quran serasa hidup jika memandang beliau ini.
Disusun oleh : Tubagus Syafiq


اللهم افتح علينا فتوح العارفين وفقهنا في الدين وعلمنا التفسير والتأويل.
BalasHapusYang nyusun keren, saudara syafiq barakallah lah.
Wih ,, guru besar fakultasku , (y) d uin syarif
BalasHapusJoss....
HapusBeliau memang pribadi yang luar biasa