Sabtu, 11 Maret 2017

Prof.Dr.H.Muhammad Quraish Shihab

Prof.Dr.H.Muhammad Quraish Shihab
Pakar Tafsir Qu
ran yang Mampu Memadukan Ilmu Agama dengan Peradaban Modern
Sumber : Profilbos.com
        

     Ditengah berkecamuknya pemikiran-pemikiran yang masuk, juga diantara berbagai perang pemahaman yang terus berlanjut dan pengeringan nilai-nilai agama yang dirasakan masyarakat modern saat ini, Umat Islam dirasa sangat penting bisa memposisikan semua itu sesuai porsinya, mengingat zaman sekarang teknologi berkembang sangat pesat, bukan lagi saatnya bagi kita umat muslim menjauhi itu semua, peradaban modern harus siap kita hadapi. Berikut akan dipaparkan seorang tokoh yang mampu memposisikan itu semua, yakni agama dan perkembangan zaman diletakan dalam posisi yang pas dan tepat. Beliau lah Quraish Shihab, pakar tafsir modern asal Indonesia yang senantiasa mengabdikan Ilmunya untuk Bangsa.    

Latar Belakang Kehidupan Beliau

            Prof.Dr.H.Muhammad Quraish Shihab,MA ( lahir di Rappang,Sulawesi Selatan, 16 Februari 1944; umur 73 tahun) adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Quran. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab keturunan Arab Quraisy-bugis yang terpelajar. Ayahnya Prof.Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Sebagai putra dari seorang guru besar, Quraish Shihab mendapatkan motivasi awal dan benih kecintaan terhadap bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering mengajak anak-anaknya duduk bersama setelah maghrib. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah menyampaikan nasihatnya yang kebanyakan berupa ayat-ayat Al-quran. Quraish kecil telah menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap Al-quran sejak umur 6-7 tahun. Disinilah benih-benih kecintaannya kepada Al-quran mulai tumbuh.
            Pendidikan formalnya di Makassar mulai dari tingkat sekolah dasar sampai kelas 2 SMP. Setelah itu ayahnya mengirimnya ke Malang untuk mesantren di PP Darul Hadits Al Faqihiyah. Berbekal mahir berbahasa Arab, setelah 2 tahun ia mesantren disana, ia dikirim ayahnya ke Kairo untuk melanjutkan sekolah disana (di Mesir namanya I’dadiyah setingkat dengan Tsanawiyah). Setelah itu ia melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar Kairo pada Fakultas Ushuludin dengan mengambil jurusan Tafsir Hadits.
            Pada tahun 1967 ia meraih gelar LC. Dua tahun kemudian mendapatkan gelar M.A pada jurusan yang sama dengan tesis berjudul al-Ijaz at-Tasyriil al-Quran alkarim (kemukjizatan alquran dari segi Hukum). Untuk mewujudkan cita-citanya, ia tidak hanya berhenti disitu, setelah beberapa tahun dipanggil ayahnya kembali ke Sulawesi Selatan untuk menjadi wakil rektor IAIN  Alaudin, Ia pun kembali melanjutkan studi S3 nya di almamater tercinta di Al Azhar Kairo. 2 tahun diselesaikannya masa-masa S3 nya itu dan meraih gelar Doktor dengan predikat penghargaan Mumtaz ma’a martabah asy-syaraf al-Ula (summa cumlaude).

Kembali ke Negeri dan Pengabdiannya Untuk Bangsa

            Tahun 1984 adalah babak baru tahap kedua bagi Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Untuk itu ia pindah tugas dari IAIN Makassar ke Fakultas Ushuludin IAIN Syarif Hidayatullah. Disini ia aktif mengajar bidang tafsir dan Ulum al Quran di program S1,S2 dan S3 sampai tahun 1998. Disamping melaksanakan tugas pokoknya sebagai dosen, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah selama dua periode (1992-1996 dan 1997-1998). Setelah itu ia dipercayai sebagai Menteri Agama pada masa Soeharto.
            Disamping kegiatan tersebut diatas, M.Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan penceramah yang handal. Quraish Shihab memang bukan satu-satunya pakar Alquran di Indonesia, tetapi kemampuannya menerjemahkan dan menyampaikan pesan-pesan Al-Quran dalam Konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul daripada pakar Al-Quran lainnya.
            Quraish Shihab adalah seorang ahli Tafsir yang pendidik. Keahliannya dalam bidang Tafsir tersebut untuk diabdikan dalam bentuk pendidikan. kedudukannya sebagai pembantu Rektor, Rektor, Menteri Agama, Ketua MUI, Staf ahli Mendikbud, anggota Badan Pertimbangan Pendidikan, menulis karya Ilmiah dan Ceramah erat kaitannya dengan pendidikan, ini menunjukan bukti pengabdiannya terhadap bangsa yang sangat besar, khususnya dalam bidang pendidikan agama. Quraish Shihab orangnya sederhana, tawadhu, sayang kepada semua orang, jujur, amanah dan tegas dalam prinsip. Beliau adalah seorang Ulama yang memanfaatkan keahliannya untuk mendidik Umat.
            Ada yang menarik ketika kita membaca riwayat kisah hidup beliau, banyak kalangan yang menilai, panggilan habib dan kiai seharusnya layak disandang Prof.H.M Quraish Shihab. Secara istilah dan keilmuan, tidak ada yang meragukan penulis Tafsir Al Misbah ini. Namun secara pribadi, mufassir yang dikenal luas ini tidak mau dipanggil habib dan kiai. Kenapa?
            Dalam buku cahaya, cinta dan canda Quraish Shihab terbitan lentera hati yang ditulis Mauluddin Anwar dan kawan-kawan, dijelaskan soal urusan habib dan kiai tersebut. Pendiri Pusat studi Al Quran (PSQ) ini hanya mau dipanggil habib oleh cucunya saja, karena lebih cocok berdasarkan artinya.
            Dalam bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti “yang mencintai” atau bisa juga “yang dicintai”. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seorang yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah.
            Alasan itulah yang membuat Quraish menolak dipanggil habib. Padahal, sebagai orang yang menghabiskan usia bergelut dengan ilmu pengetahuan, Quraish layak mendapat gelar itu. Tapi ia berkukuh tetap menolak. Semata-mata karena “itu mengandung unsur pujian”
            Baginya, gelar Habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaqnya.  
            Nama Quraish Shihab masuk dalam daftar ‘500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia’ dalam situs themuslim500.com namanya tertuang berkat jasa-jasanya dalam mengembangkan Ilmu keislaman dalam beragam kegiatan, Karya-karyanya tentang agama sesuai dengan konteks zaman sekarang, sehingga mudah diterima dan dicerna oleh berbagai kalangan masyarakat.  


Sumber:
 id.m.Wikipedia.org
 Nu.or.id(NU online)
‘Biografi penulis’ dari beberapa karya beliau
Dll.

              

Oleh :
Tubagus Syafiq 

0 komentar:

Posting Komentar