Jumat, 23 Desember 2016

Semanis Manna dari Syurga Part II


       Rembulan melingkar sempurna, purnama bertahta, jutaan bintang menggantung di langit semesta. Malam itu langit sangat mempesona, ikut menyaksikan Si Tubuh Gempal juga temannya yang berjaket kulit menjabat jemari lelaki berwajah teduh dan istrinya di beranda rumah bergaya klasik. Beberapa menit setelah kepergian dua lelaki itu langit menjadi muram, ledakan yang disusul semburat api dan kepulan asap mengungkung langit-langit semesta.
Malam saat usiaku genap 9 tahun, saat tangan mungil Anna menarik-narik ujung bajuku, mata bulatnya mengerjap-ngerjap, menyisakan banyak tanda tanya di wajah gadis berusia 5 tahun itu. Malam yang membuat kami kehilangan semuanya, hanya menyisakan kepingan harapan yang berserakan. Hilangnya harapan yang membuat kami terdampar di ibu kota dan memungut sisa-sisa harapan yang masih ada dimulai pada malam itu.
Aku mematung di halaman surau. Anak-anak lain yang tengah berlarian untuk pulang sembari saling menarik sarung kawannya atau saling melempar sandal seketika terhenti. Umi Ina yang tengah membereskan kitab terbengong, menerka apa yang terjadi. Waktu seakan terhenti seiring terdengar suara ledakan dan semburat api mengangkasa, 30 detik yang mencengangkan hingga akhirnya bahuku terguncang. Seseorang berlari tergesa-gesa menghampiri aku dan Anna, berteriak parau sembari mengguncang bahuku, menatap Anna  sendu, “Jangan pulang, jangan kembali, kalian ikut Uwak.”
Aku mengernyitkan kening, meminta penjelasan.
“Ledakan tadi.. bom.. di rumah kalian..”
Lengang. Uwak Maryam menatap kami prihatin. Kitab dalam genggamanku rebah di tanah, jantungku berdegup tak terkendali. Anna menarik-narik ujung bajuku, mengajak bergegas pulang, ia masih terlalu dini untuk mengerti kalimat Uwak Maryam tadi.
“Ibu.. Ayah.. Ayuk Wulan..” Aku menatap Uwak Maryam tidak percaya.
“Lupakan mereka. Kau harus memeluk belati kenyataan ini. Peluk erat-erat.” Kalimat Uwak Maryam membuat jantungku berdegup kencang, aliran sungai kecil menjebol bendungan kelopak mata.
“Maryam! Apa yang terjadi?” Dari teras Surau suara Umi Ina terdengar cemas.
“Akan kujelaskan nanti, Umi.” Tanpa merasa perlu menghampiri Umi Ina, Uwak Maryam bergegas menggendong Anna dan menarik tanganku.
***
Di rumah panggung sederhana milik Uwak Maryam, masih dengan digenangi air mata, aku memandangi wajah seseorang dalam pigura yang menempel di dinding dengan banyak cat terkelupas di mana-mana, mata bulat dengan sorot tajam yang berpayung alis tebal dan juga kumis lebat melintang membuat siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri, seseorang yang suatu hari akan kupanggil Bapak.
Meski terkesan galak, namun sesungguhnya Uwak Togar berhati malaikat. Ia menerima saran Uwak Maryam –ibunya- dengan senang hati untuk mengangkat kami sebagai anak, mengingat usia pernikahan mereka yang sudah 5 tahun belum dikaruniai buah hati. Setelah menikah, Uwak Togar memilih merantau ke Ibu Kota, membangun rumah tangga tanpa ingin merepotkan sanak saudara. Meski tak kunjung dikaruniai buah hati, Uwak Togar tetap setia menemani seseorang yang 2 tahun terakhir mengidap paru-paru basah, seseorang yang suatu hari akan kupanggil Mamak. Bersama merekalah kini aku dan Anna berusaha memungut sisa-sisa harapan yang berserakan.
Ayah dan Ibu bertemu di panti asuhan, mereka dibesarkan bersama di panti, tak pernah mengenal keluarga. Satu-satunya keluarga yang tersisa adalah keluarga Uwak Maryam, bukan sebab hubungan darah, namun kedekatan kami sudah seperti keluarga.
***
Aku menatap Bapak nanar, mencengkeram lengannya kuat-kuat, yang ditatap hanya bisa mengusap muka. Tangisan Mamak tak kunjung henti sejak dikabarkan pencarian Anna tak membuahkan hasil.
Matahari semakin tumbang tak berdaya, aku menendang-nendang kerikil sembari menatap langit jingga, berjalan bersisian bersama gadis pemilik wajah cemas, jari-jari mungilnya meraih jemariku, mengayun-ayunkannya sambil bersenandung. Aku tahu, nyala lampu minyak tengah menari di benaknya, penjualan koran hari ini tak bersisa.
Saat senja dibunuh mega, adzan Maghrib menggaung di semesta, saat itulah Anna melepaskan ayunan tangannya, bilang bahwa ia tak bisa melanjutkan perjalanan pulang bersamaku, ia akan menyusul setelah urusannya selesai. Kejadian itu begitu cepat, entah mengapa aku menyetujui permintaannya, mengangguk tanpa beban, bilang hati-hati disusul lambaian tangan Anna. Dan sampai Isya berlalu, Anna belum juga kembali. Aku dan Bapak sudah mencari ke mana-mana, tapi nihil, Anna belum juga ditemukan.
Di halaman rumah berpayung langit, aku mendekap lutut, meletakkan dagu di antara keduanya. Aku sudah kehilangan orang tua, keluarga, harta, dan hari ini harus kembali kehilangan, seseorang yang tersisa dalam hidupku.
Aku mengangkat wajah, mencoba meniru kebiasaan Anna, ia suka sekali menatap rembulan. Dan malam ini rembulan terlihat lebih indah –tapi penuh kecemasan- dari malam-malam sebelumnya, aku segera memeluknya, rembulan yang kutemukan malam ini adalah wajah Anna. Saat aku mengangkat wajah, saat itulah Anna berdiri di hadapanku, bersama seseorang.
***

Bersambung.................

Ditulis oleh : Rinai



Note : 
Bagi yang belum membaca part I, klik link dibawah ya...
Semanis Manna dari Syurga Part I


0 komentar:

Posting Komentar