Rembulan melingkar sempurna, purnama bertahta, jutaan bintang menggantung di langit semesta. Malam itu langit sangat mempesona, ikut menyaksikan Si Tubuh Gempal juga temannya yang berjaket kulit menjabat jemari lelaki berwajah teduh dan istrinya di beranda rumah bergaya klasik. Beberapa menit setelah kepergian dua lelaki itu langit menjadi muram, ledakan yang disusul semburat api dan kepulan asap mengungkung langit-langit semesta.
Malam saat usiaku genap 9
tahun, saat tangan mungil Anna menarik-narik ujung bajuku, mata bulatnya
mengerjap-ngerjap, menyisakan banyak tanda tanya di wajah gadis berusia 5 tahun
itu. Malam yang membuat kami kehilangan semuanya, hanya menyisakan kepingan
harapan yang berserakan. Hilangnya harapan yang membuat kami terdampar di ibu
kota dan memungut sisa-sisa harapan yang masih ada dimulai pada malam itu.
Aku mematung di halaman
surau. Anak-anak lain yang tengah berlarian untuk pulang sembari saling menarik
sarung kawannya atau saling melempar sandal seketika terhenti. Umi Ina yang
tengah membereskan kitab terbengong, menerka apa yang terjadi. Waktu seakan
terhenti seiring terdengar suara ledakan dan semburat api mengangkasa, 30 detik
yang mencengangkan hingga akhirnya bahuku terguncang. Seseorang berlari
tergesa-gesa menghampiri aku dan Anna, berteriak parau sembari mengguncang
bahuku, menatap Anna sendu, “Jangan
pulang, jangan kembali, kalian ikut Uwak.”
Aku mengernyitkan kening,
meminta penjelasan.
“Ledakan tadi.. bom.. di
rumah kalian..”
Lengang. Uwak Maryam
menatap kami prihatin. Kitab dalam genggamanku rebah di tanah, jantungku
berdegup tak terkendali. Anna menarik-narik ujung bajuku, mengajak bergegas
pulang, ia masih terlalu dini untuk mengerti kalimat Uwak Maryam tadi.
“Ibu.. Ayah.. Ayuk
Wulan..” Aku menatap Uwak Maryam tidak percaya.
“Lupakan mereka. Kau
harus memeluk belati kenyataan ini. Peluk erat-erat.” Kalimat Uwak Maryam
membuat jantungku berdegup kencang, aliran sungai kecil menjebol bendungan
kelopak mata.
“Maryam! Apa yang
terjadi?” Dari teras Surau suara Umi Ina terdengar cemas.
“Akan kujelaskan nanti,
Umi.” Tanpa merasa perlu menghampiri Umi Ina, Uwak Maryam bergegas menggendong
Anna dan menarik tanganku.
***
Di rumah panggung
sederhana milik Uwak Maryam, masih dengan digenangi air mata, aku memandangi
wajah seseorang dalam pigura yang menempel di dinding dengan banyak cat
terkelupas di mana-mana, mata bulat dengan sorot tajam yang berpayung alis
tebal dan juga kumis lebat melintang membuat siapapun yang melihatnya akan
bergidik ngeri, seseorang yang suatu hari akan kupanggil Bapak.
Meski terkesan galak,
namun sesungguhnya Uwak Togar berhati malaikat. Ia menerima saran Uwak Maryam
–ibunya- dengan senang hati untuk mengangkat kami sebagai anak, mengingat usia
pernikahan mereka yang sudah 5 tahun belum dikaruniai buah hati. Setelah menikah,
Uwak Togar memilih merantau ke Ibu Kota, membangun rumah tangga tanpa ingin
merepotkan sanak saudara. Meski tak kunjung dikaruniai buah hati, Uwak Togar
tetap setia menemani seseorang yang 2 tahun terakhir mengidap paru-paru basah,
seseorang yang suatu hari akan kupanggil Mamak.
Bersama merekalah kini aku dan Anna berusaha memungut sisa-sisa harapan yang
berserakan.
Ayah dan Ibu bertemu di
panti asuhan, mereka dibesarkan bersama di panti, tak pernah mengenal keluarga.
Satu-satunya keluarga yang tersisa adalah keluarga Uwak Maryam, bukan sebab
hubungan darah, namun kedekatan kami sudah seperti keluarga.
***
Aku menatap Bapak nanar, mencengkeram lengannya
kuat-kuat, yang ditatap hanya bisa mengusap muka. Tangisan Mamak tak kunjung henti sejak dikabarkan pencarian Anna tak
membuahkan hasil.
Matahari semakin tumbang
tak berdaya, aku menendang-nendang kerikil sembari menatap langit jingga,
berjalan bersisian bersama gadis pemilik wajah cemas, jari-jari mungilnya
meraih jemariku, mengayun-ayunkannya sambil bersenandung. Aku tahu, nyala lampu
minyak tengah menari di benaknya, penjualan koran hari ini tak bersisa.
Saat senja dibunuh mega,
adzan Maghrib menggaung di semesta, saat itulah Anna melepaskan ayunan
tangannya, bilang bahwa ia tak bisa melanjutkan perjalanan pulang bersamaku, ia
akan menyusul setelah urusannya selesai. Kejadian itu begitu cepat, entah
mengapa aku menyetujui permintaannya, mengangguk tanpa beban, bilang hati-hati
disusul lambaian tangan Anna. Dan sampai Isya berlalu, Anna belum juga kembali.
Aku dan Bapak sudah mencari ke
mana-mana, tapi nihil, Anna belum juga ditemukan.
Di halaman rumah
berpayung langit, aku mendekap lutut, meletakkan dagu di antara keduanya. Aku
sudah kehilangan orang tua, keluarga, harta, dan hari ini harus kembali kehilangan,
seseorang yang tersisa dalam hidupku.
Aku mengangkat wajah,
mencoba meniru kebiasaan Anna, ia suka sekali menatap rembulan. Dan malam ini
rembulan terlihat lebih indah –tapi penuh kecemasan- dari malam-malam
sebelumnya, aku segera memeluknya, rembulan yang kutemukan malam ini adalah
wajah Anna. Saat aku mengangkat wajah, saat itulah Anna berdiri di hadapanku,
bersama seseorang.
***
Bersambung.................
Ditulis oleh : Rinai
Ditulis oleh : Rinai
Note :
Bagi yang belum membaca part I, klik link dibawah ya...
Semanis Manna dari Syurga Part I
0 komentar:
Posting Komentar