Prolog
Tidak utuhnya sebuah
keluarga tak pernah menjadi harapan bagiku dan Anna, juga anak manapun di dunia
ini. Saat sepasang retina jauh menerawang teman sebaya yang mengayunkan tangan
ayah-ibunya, saat itulah hujan berteduh di bawah alis menjadi lautan rindu,
mega merah terhampar di mata menjadi kenyataan pilu, dan hari-hari berisi
jadwal nelangsa. Tapi seperti itulah cara Allah melatih hati untuk sabar dan
ikhlas menerima titah-Nya, menanamkan ketabahan di jiwa, menjadikan berbeda,
istimewa. Allah tahu bahwa jiwa-jiwa yang kehilangan pelukan ayah-ibunya mampu menaklukkan lautan tanpa
perahu, menaklukkan arus tanpa bergantung pada akar-akar di pinggiran sungai.
Karena sungguh Allah Maha Tahu, Ia tahu Homo Sapiens seperti kami mampu
menjalani kehidupan tanpa benar-benar berpegang pada jemari mereka.
Simpan sosok mereka dalam
hati, teladani kebaikannya, rapalkan namanya di setiap sujud panjang. Dengan
begitu mereka tetap ada di dalam kehidupan. Karena sungguh, ketika do’a-do’a setia
merapalkan nama mereka, maka kematian atau perceraian bukan lagi menjadi sebuah
perpisahan.
***
Lelaki bertubuh gempal
itu resah, berkali-kali ia melirik benda yang melingkar di lengan, pada lirikan
kesekian kalinya ia menghembuskan napas lega seiring langkah kaki seseorang
yang mendekat. Lelaki berjaket kulit yang baru saja tiba itu mengangguk dan
menyeringai pada Si Tubuh Gempal di hadapannya, ada sebuah perjanjian dalam
anggukan dan seringai itu. Mereka berjalan menuju sebuah rumah bergaya klasik.
Seorang wanita pemilik
retina kejora membawa nampan berisi empat cangkir teh, duduk di samping lelaki
berwajah teduh. Wajah lelaki itu tetap teduh meski di kepalanya berputar-putar
beberapa pertanyaan, ada keperluan apa lelaki bertubuh gempal ini bertandang ke
rumah? Bukankah besok seharusnya ia berada di pengadilan? Namun ditelannya
semua pertanyaan itu, semuanya terlihat jelas ketika lelaki berjaket kulit
menawarkan beberapa angka.
***
Embun berbaris di ujung
daun, bulirannya rebah di tanah seiring duha menjalar, kehadiran mentari pada
pagi kesekian kalinya seolah memberi harapan pada kehidupan. Aku dan Anna
berdiri di depan pintu, melambaikan tangan dan memberikan senyum terbaik pada
perempuan berwajah sendu yang tergeletak tak berdaya, malaikat kami setelah
ayah dan ibu. Ia membalas senyum dan mengangguk takzim, meyakinkan bahwa kami
harus sekolah dan ia akan baik-baik saja.
Dengan sepatu yang sudah
berlubang dan seragam yang mulai lusuh,
Aku berjalan seperti orang keserupan, berkali-kali Anna mencoba mensejajari
langkahku, lagi-lagi ia tertinggal.
“Abang,
jalannya pelan-pelan saja, Anna capek.”
“Ma’afkan
Abang, Anna. Kita harus cepat-cepat sampai di kelas sebelum upacara dimulai,
bukankah tadi malam kita baru menyelesaikan tugas setengah?” Semalam lampu
minyak di rumah kami krisis bahan bakar dan terpaksa menyandang gelar almarhum
sebelum tugas rampung. Hal seperti ini
bukan pertama kalinya, jika lampu minyak almarhum, maka kami mengerjakan tugas
di halaman, mengandalkan remang rembulan, tapi tubuh ringkih yang setiap pulang
sekolah harus berkencan dengan belati kenyataan ini tak sanggup lagi menahan
lelah dan kantuk, maka kami memutuskan
untuk merampungkannya esok pagi di sekolah.
“Kita
juga harus mengambil koran di kios Bapak
bukan? Jangan sampai terlambat, atau Bapak
akan memberi hukuman, menyuruh kita menulis kalimat ‘Saya berjanji akan menjadi
pribadi yang disiplin’ satu buku penuh.” Aku menyeringai, geli melihat air muka
Anna yang ketakutan.
Seperti biasa, pagi-pagi
sekali sembari berangkat sekolah kami harus mengambil koran di kios Bapak untuk dijajakan sepulang sekolah.
Kemarin, koran yang dijajakan hanya habis setengah, dengan tangan gemetar dan
disaksikan tumpahan air mata kami menghitung laba, hasilnya tidak seberapa,
tapi sebutir getir tidak seharusnya membuat lupa atas sekarung nikmat. Moga
hela nafas, denyut nadi, dan detak jantung selalu setia berkencan dengan
syukur.
“Apa kau lupa Anna? Ini
hari senin, kalau tidak cepat-cepat nanti terlambat dan tidak bisa ikut
menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau melihat merah putih yang mengangkasa
dengan gagah.” Aku mencoba menyemangati, ia paling suka menyanyikan lagu
Indonesia Raya dan takjub melihat merah putih yang mengangkasa dengan gagah.
Aku tersenyum geli melihat langkah Anna panjang-panjang dan cepat, ia bahkan
sudah mendahuluiku.
Sekolah
kami jauh dari kata megah, semua serba seadanya, tapi tidak mengapa, karena di
sinilah kami memetik buah pohon hakikat, menyelami mata air ma’rifat, dan
menggali tambang syari’at. Aku sempat memperhatikan Anna berlarian memasuki
ruang kelas, memperhatikan kaki mungilnya yang terbalut sepatu berlubang,
sebelum akhirnya aku cepat-cepat memasuki ruang kelas VI dan menyimpan koran di
laci, tugas harus rampung sebelum upacara dilaksanakan, jadi tidak ada waktu
untuk terenyuh melihat keadaan.
***
Anna segera menghampiriku
begitu melihat murid-murid kelas VI berebut pulang.
Matahari menggantung di
langit semesta, aspal jalanan terasa menyengat telapak kaki. Anna sudah
beberapa meter di depanku, di usianya yang 8 tahun, ada banyak sekali hal yang
ia cemaskan, salah satunya ialah kehilangan jatah makan. Setiap pulang sekolah
kami memeriksa tempat sampah di rumah makan dekat persimpangan jalan. Kemarin
ia menangis tersedu melihat tempat sampah yang kosong, seekor kucing kampung
mengambil jatah makan kami.
Aku membiarkan gadis
pemilik wajah cemas itu mendahului, dengan begitu aku bisa meluapkan bendungan
yang menjebol kelopak mata.
Dari kejauhan Anna
berjingkrak-jingkrak memamerkan kantong plastik hitam, meneriakiku agar cepat-cepat
menghampirinya, Aku berlarian menghampiri sembari memecah buliran air dengan
punggung telapak tangan.
“Abang, lihat. Kucing itu
kalah cepat dari kita.” Ia menyeringai penuh kemenangan sembari menunjuk kucing
yang hanya bisa terbengong melihat tempat sampah kosong.
“Ya sudah, sekarang kita
pulang. Setelah itu kita harus menjual koran-koran ini.” Aku berusaha
tersenyum, menguatkan hati.
Siang untuk kesekian
kalinya kami bergelut dengan debu jalanan, panas matahari, dan deru mesin
kendaraan untuk menjajakan koran. Aku, Anna, dan kerasnya hidup seolah menjadi
sebuah perjanjian bahwa kami tak terpisahkan, -setelah ledakan bom mencumbu
Ayah, Ibu, dan Ayuk Wulan 3 tahun yang lalu.
***
Bersambung..........
Ditulis oleh : Rinai
Gimana nih sobat-sobat IAT ?
Bagus kan cerpennya ?
Penasaran dengan lanjutanyya ??
Hehe kalau mau tau lanjutannya, langusng klik link dibawah ya....
Semanis Manna dari Syurga Part II
Mantap ceritanya
BalasHapusTerimakasih atas kunjungannya....
HapusSemoga dapat menginspirasi :D