OLEH:
MISBAHUL WANI
misbahul.wani@gmail.com
Sekilas Kisah Nyata Pengaruh Berkembangnya Teknologi di Masyarakat.
Dalam kehidupan dunia semakin dewasa
ini, kita saksikan kemajuan yang sangat pesat dan luar biasa. Seperti halnya perkembangan
teknologi ditubuh masyarakat. Teknologi
sangat memberikan pengaruh terhadap perkembangan kehidupan manusia, baik
secara individu maupun secara sosial. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia
terwakili dengan kecanggihan-kecanggihan dan media yang serba instant. Sekali
lagi karena di pengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih
dengan sejuta tawaran kemudahan dan kecepatan luar biasa (Instant).
Hari ini, antara kehidupan dunia
nyata dan kehidupan dunia digital hampir tidak bisa dipisahkan. Pasalnya dunia
digital sudah dijadikan sebuah media yang mewakili segala kebutuhan kehidupan
manusia sehari-hari. Bagaimana tidak
penulis mengatakan hampir tidak bisa dipisahkan, Seperti contoh hadirnya
sebuah televisi, hampir ditemukan dalam setiap rumah warga. Bahkan ada pemuda
namanya Muammar mengatakan: televisi dijaman sekarang wajib punya, demi
menghindari ketertinggalan informasi, lebih-lebih yang terkait dengan isu-isu
Agama Islam dibelahan dunia luar. Artinya segala informasi membuat mereka seakan-akan
berfikir dan bisa menjelajah dunia dengan luas. Karena dengan televisi itu
mereka melewati lompatan-lompatan lebih jauh untuk bisa memperkaya informasi.
Jadi penulis tidak heran bila Dr.
Rhenald kasali Guru Besar UI dalam sebuah artikelnya “Dunia Nyata vs Dunia
Digital” beranggapan bahwa dunia nyata dan dunia digital tidak bisa
dipisahkan. Contoh lain adalah pengaruh teknologi pada masyarakat agraris.
Hampir 70% petani yang ada di sekitar daerah pedesan, tepatnya desa kajjan, “salah
satu desa kecil dikabupaten Bangkalan” sekarang tidak lagi membajak sawah
dan perkebunan mereka menggunakan alat tradisional, yaitu dua pasang sapi dan
diantara dua sapi tersebut ada sebuah kayu yang dilengkapi dengan alat tajam
pembajaknya di bawah. Masyarakat setempat menyebutnya (slageh dan
nanggeleh). Slageh, yaitu sebuah alat pembajak untuk mengupas dan
mengangkat tanah agar menjadi tanah yang baru. Sedangkan nanggeleh, yaitu
sebagian dari alat membajak juga, namun fungsinya untuk menghaluskan dan
meratakan tanah yang sudah dibajak
tersebut. Perubahan cara hidup petani tersebut sekitar 8 tahun yang lalu atau
mulai awal tahun 2008. Sekarang mereka beralih ke mesin pembajak modern seperti
Quick dan lain-lain.
MAHASISWA VS DIGITAL WORLD
![]() |
| Sumber: Dokumen Pribadi |
Dalam sebuah perjalanan hidup tidak akan lepas dari istilah bahasa ‘Roda berputar’, ada saatnya di atas ada saatnya dibawah, ada saatnya pelantikan, ada saatnya menyerahkan jabatan, dan seterusnya seperti iu. Tergantung bagaimana kita mengidentifikasi diri agar tidak terjerumus dalam hal yang negatife dan berlebihan dalam menyikapi segala hal.
Sebenarnya tulisan ini berangkat
dari keresahan yang terjadi disekitar saya. Daerah akademik dengan fasilitas Network
of Internet yang cukup mewadahi. Sekan-akan segala hal yang kita inginkan bisa
kita akses dan kita raih. Karena disini penulis hidup dilingkungan akademik dan
kota besar, istimewa lagi. Haha….
Menggunakan sesuatu yang baru
seyogyanya bukan hal yang hina atau tidak boleh, bahkan itu sangat baik. Karena
perkembangan zaman tidak bisa kita tutup mata; sekan-akan tidak tahu-manahu.
Justru kita harus menyesuaikan diri agar tetap bertahan dan melawan bila ada
ketidaksesuaian.
Melihat fenomena yang terjadi dilingkungan saya saat ini, hampir
semua teman-teman saya mencukupkan segala urusannya dengan dunia digital atau
lebih jelasnya medsos. Seperti halnya budaya kumpul besama, baik mengerjakan
tugas kelompok, diskusi bareng, maupun urusan organisasai, kini lebih di
alokasikan ke medsos. Seakan-akan
sebuah permasalahan selesai di dalam dunia digital tadi atau salah satu teman
saya Valina Cantika Raga menyebutnya (Rembukan Online).
IBADAH ONLINE
Bukan hanya persoalan Rembukan Online itu yang terjadi, kembali ke sejarah
perkembangan teknologi, saat Instagram pertama kali menampilkan sebuah kolom
Histori, begitu saya menyebutnya, aplikasi lainnya ikut berbondong-bondong
memperbaharui produk aplikasinya, seperti Facebook, disusul Facebook Lite,
WhatsApp, BBM dan medsos yang lain. Upaya ini dilakukan agar produk aplikasinya
laku di gunakan. Sehingga tidak jarang para pengguna mengisi kolom histori
tersebut dengan seunik dan se-kreatif mungkin. Seakan-akan berlomba-lomba lebih
baik dalam menampikan sebuah status mereka. Suasana ini menurut saya masih baik
karena dibalik fasilitas tersebut mereka menyebarkan pengalaman baik mereka dan
status-status yang menginspirasi tentunya. Akan tetapi seiring perkembangan
waktu ada hal yang saya pandang sangat berlebihan dan tidak wajar. Yaitu
mengungkapkan sesuatu yang bersifat spiritual yang seharusnya dihdapkan pada
Tuhan, namun oleh mereka di cantumkan ke medsos mereka. Setelah saya bertanya,
tapi saya tidak sebutkan namanaya, dia beralasan “agar yang baca bisa doa
juga dengan baca itu, iya kan???”. Begitu kata (dia).
Misalnya, mereka
menulis: “Ya Tuhan!!! Berikan kemudahan hari ini pada saya, aamiin…”, atau
lebih ekstrim lagi “bolehkah saya menangis Tuhan?.” Secara implisit ungkapan
ini tidak jadi masalah, namun yang menjadi sebuah pertanyaan, apakah dengan
begitu dapat menyelesaikan masalah? Jangan-jangan malah nambah masalah?
Entahlah!
Abu al-A’la al-Ma’ari (pujangga
filsuf 363-449 H) mengatakan:
(اذاما عراكم حادث فتحدثوا # فان حديث القوم ينسي المصائبا)
“Jika
kalian dirudung masalah maka cobalah beramah-tamah (ngobrol), bukankah
keindahan kata-kata dapat menghilangkan pengalaman pahit yang nyata?.”
Sederhana yang saya
pahami dari syair tersebut, namun cukup memberikan sindiran pada saya pribadi. Jika
dikontekstualisasikan dengan problem diatas, setidaknya jika dirundung masalah
jangan terlalu lama dipendam diri, ungkapkan pada orang yang dipercaya,
terutama bagi yang masih memiliki orang tua atau saudara maupun teman yang
dipercaya, dengan begitu siapa tahu mereka bisa memberikan sebuah jalan keluar.
Tapi kita perlu bijak apa yang semestinya kita ungkapkan.
Kalau penulis boleh meminjam istilah orang bijak menurut Gus Mus
adalah:
“Orang bijak mengetahui apa yang dibicarakan,
dimana bericara,
dan dengan siapa berbicara”
Baik lah, Seterusnya, jika liat
lafadz syair tadi, jangan sampai salah memberikan pengertian pada lafad “فتحدثوا”, yaitu memiliki arti berceritalah (ngobrollah) kalau bahasa
sekarang. Bukan buat status yang cukup memprihatinkan, dengan harapan agar ada
yang menanggapi dan mendoakan atas kesedihannya. Tapi luapkanah perasaan
sedih tersebut pada orang yang
terpercaya atau telepon sekalian. Selanjutnya berdoalah pada Tuhan
dilembah sujudmu (yaitu di mesjid) memohon jalan keluar atas
musibah yang menimpa bukan di WhatsApp, Instagram, Facebook dan sebagainya.
Begitu juga dengan bersyukur, tuangkan rasa syukurmu pada Tuhan yang memberikan
nikmat kepada kita disana. insyaAllah isi medsosnya akan terisi sejuta motivasi
bukan sedih hati maupun berbangga diri.
“TULISLAH ILMU WALAUPUN SATU KALIMAT”
(PROF.
DR. MUHAMMAD CHIRZIN)
Penulis,
Yogyakarta, 18 oktober 2017

0 komentar:
Posting Komentar