Jumat, 16 Desember 2016

Semanis Manna dari Syurga Part I

Prolog
Tidak utuhnya sebuah keluarga tak pernah menjadi harapan bagiku dan Anna, juga anak manapun di dunia ini. Saat sepasang retina jauh menerawang teman sebaya yang mengayunkan tangan ayah-ibunya, saat itulah hujan berteduh di bawah alis menjadi lautan rindu, mega merah terhampar di mata menjadi kenyataan pilu, dan hari-hari berisi jadwal nelangsa. Tapi seperti itulah cara Allah melatih hati untuk sabar dan ikhlas menerima titah-Nya, menanamkan ketabahan di jiwa, menjadikan berbeda, istimewa. Allah tahu bahwa jiwa-jiwa yang kehilangan pelukan  ayah-ibunya mampu menaklukkan lautan tanpa perahu, menaklukkan arus tanpa bergantung pada akar-akar di pinggiran sungai. Karena sungguh Allah Maha Tahu, Ia tahu Homo Sapiens seperti kami mampu menjalani kehidupan tanpa benar-benar berpegang pada jemari mereka.
Simpan sosok mereka dalam hati, teladani kebaikannya, rapalkan namanya di setiap sujud panjang. Dengan begitu mereka tetap ada di dalam kehidupan. Karena sungguh, ketika do’a-do’a setia merapalkan nama mereka, maka kematian atau perceraian bukan lagi menjadi sebuah perpisahan.
***

Lelaki bertubuh gempal itu resah, berkali-kali ia melirik benda yang melingkar di lengan, pada lirikan kesekian kalinya ia menghembuskan napas lega seiring langkah kaki seseorang yang mendekat. Lelaki berjaket kulit yang baru saja tiba itu mengangguk dan menyeringai pada Si Tubuh Gempal di hadapannya, ada sebuah perjanjian dalam anggukan dan seringai itu. Mereka berjalan menuju sebuah rumah bergaya klasik.
Seorang wanita pemilik retina kejora membawa nampan berisi empat cangkir teh, duduk di samping lelaki berwajah teduh. Wajah lelaki itu tetap teduh meski di kepalanya berputar-putar beberapa pertanyaan, ada keperluan apa lelaki bertubuh gempal ini bertandang ke rumah? Bukankah besok seharusnya ia berada di pengadilan? Namun ditelannya semua pertanyaan itu, semuanya terlihat jelas ketika lelaki berjaket kulit menawarkan beberapa angka.
***
Embun berbaris di ujung daun, bulirannya rebah di tanah seiring duha menjalar, kehadiran mentari pada pagi kesekian kalinya seolah memberi harapan pada kehidupan. Aku dan Anna berdiri di depan pintu, melambaikan tangan dan memberikan senyum terbaik pada perempuan berwajah sendu yang tergeletak tak berdaya, malaikat kami setelah ayah dan ibu. Ia membalas senyum dan mengangguk takzim, meyakinkan bahwa kami harus sekolah dan ia akan baik-baik saja.
Dengan sepatu yang sudah berlubang  dan seragam yang mulai lusuh, Aku berjalan seperti orang keserupan, berkali-kali Anna mencoba mensejajari langkahku, lagi-lagi ia tertinggal.
            “Abang, jalannya pelan-pelan saja, Anna capek.”
            “Ma’afkan Abang, Anna. Kita harus cepat-cepat sampai di kelas sebelum upacara dimulai, bukankah tadi malam kita baru menyelesaikan tugas setengah?” Semalam lampu minyak di rumah kami krisis bahan bakar dan terpaksa menyandang gelar almarhum sebelum tugas  rampung. Hal seperti ini bukan pertama kalinya, jika lampu minyak almarhum, maka kami mengerjakan tugas di halaman, mengandalkan remang rembulan, tapi tubuh ringkih yang setiap pulang sekolah harus berkencan dengan belati kenyataan ini tak sanggup lagi menahan lelah dan kantuk, maka  kami memutuskan untuk merampungkannya esok pagi di sekolah.
            “Kita juga harus mengambil koran di kios Bapak bukan? Jangan sampai terlambat, atau Bapak akan memberi hukuman, menyuruh kita menulis kalimat ‘Saya berjanji akan menjadi pribadi yang disiplin’ satu buku penuh.” Aku menyeringai, geli melihat air muka Anna yang ketakutan.
Seperti biasa, pagi-pagi sekali sembari berangkat sekolah kami harus mengambil koran di kios Bapak untuk dijajakan sepulang sekolah. Kemarin, koran yang dijajakan hanya habis setengah, dengan tangan gemetar dan disaksikan tumpahan air mata kami menghitung laba, hasilnya tidak seberapa, tapi sebutir getir tidak seharusnya membuat lupa atas sekarung nikmat. Moga hela nafas, denyut nadi, dan detak jantung selalu setia berkencan dengan syukur.
“Apa kau lupa Anna? Ini hari senin, kalau tidak cepat-cepat nanti terlambat dan tidak bisa ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau melihat merah putih yang mengangkasa dengan gagah.” Aku mencoba menyemangati, ia paling suka menyanyikan lagu Indonesia Raya dan takjub melihat merah putih yang mengangkasa dengan gagah. Aku tersenyum geli melihat langkah Anna panjang-panjang dan cepat, ia bahkan sudah mendahuluiku.
            Sekolah kami jauh dari kata megah, semua serba seadanya, tapi tidak mengapa, karena di sinilah kami memetik buah pohon hakikat, menyelami mata air ma’rifat, dan menggali tambang syari’at. Aku sempat memperhatikan Anna berlarian memasuki ruang kelas, memperhatikan kaki mungilnya yang terbalut sepatu berlubang, sebelum akhirnya aku cepat-cepat memasuki ruang kelas VI dan menyimpan koran di laci, tugas harus rampung sebelum upacara dilaksanakan, jadi tidak ada waktu untuk terenyuh melihat keadaan.
***
Anna segera menghampiriku begitu melihat murid-murid kelas VI berebut pulang.
Matahari menggantung di langit semesta, aspal jalanan terasa menyengat telapak kaki. Anna sudah beberapa meter di depanku, di usianya yang 8 tahun, ada banyak sekali hal yang ia cemaskan, salah satunya ialah kehilangan jatah makan. Setiap pulang sekolah kami memeriksa tempat sampah di rumah makan dekat persimpangan jalan. Kemarin ia menangis tersedu melihat tempat sampah yang kosong, seekor kucing kampung mengambil jatah makan kami.
Aku membiarkan gadis pemilik wajah cemas itu mendahului, dengan begitu aku bisa meluapkan bendungan yang menjebol kelopak mata.
Dari kejauhan Anna berjingkrak-jingkrak memamerkan kantong plastik hitam, meneriakiku agar cepat-cepat menghampirinya, Aku berlarian menghampiri sembari memecah buliran air dengan punggung telapak tangan.
“Abang, lihat. Kucing itu kalah cepat dari kita.” Ia menyeringai penuh kemenangan sembari menunjuk kucing yang hanya bisa terbengong melihat tempat sampah kosong.
“Ya sudah, sekarang kita pulang. Setelah itu kita harus menjual koran-koran ini.” Aku berusaha tersenyum, menguatkan hati.
Siang untuk kesekian kalinya kami bergelut dengan debu jalanan, panas matahari, dan deru mesin kendaraan untuk menjajakan koran. Aku, Anna, dan kerasnya hidup seolah menjadi sebuah perjanjian bahwa kami tak terpisahkan, -setelah ledakan bom mencumbu Ayah, Ibu, dan Ayuk Wulan 3 tahun yang lalu.

***
Bersambung..........


Ditulis oleh : Rinai


Gimana nih sobat-sobat IAT ?
Bagus kan cerpennya ?
Penasaran dengan lanjutanyya ??
Hehe kalau mau tau lanjutannya, langusng klik link dibawah ya....
Semanis Manna dari Syurga Part II

2 komentar: