Jumat, 30 Desember 2016

Semanis Manna Dari Syuga Part III (END)

Ibu  berbadan penuh lemak itu menarik lengan Anna kasar.  Aku terperanjat.
“Lepaskan Anna. Jangan sakiti dia!”
Tarikannya terhenti dan ia menatapku, menyeringai.
“Bagaimana bisa aku melepaskan seorang pencuri? Aku tidak habis fikir, bagaimana bisa Togar mengangkat anak tanpa mendidiknya?”
Aku balas menatapnya, meyelidik.
“Aku abangnya. Jelaskan apa yang terjadi!”
Belum habis pembicaraan kami, lelaki bertubuh tegap yang sedari tadi berdiri di pintu tanpa kami sadari menyapa hangat ibu berbadan penuh lemak.
“Malam, Ibu Weni. Mari masuk di gubuk kami.”
Mendengar namanya, aku ingat dia adalah pemilik rumah makan di dekat persimpangan jalan. Tanpa menghiraukan tawaran Bapak, Ibu Weni langsung menceracau.
“Hei, Togar! Apa kau tidak mendidik anak ini, hah?! Kau tahu apa yang telah dilakukannya? Anak ini mencuri makanan di ....”
“Itu makanan sisa, dan aku tidak mencurinya!” Belum habis penjelasan Ibu Weni, dengan sesegukan dan setengah berteriak, Anna membela dirinya.
“Apa kau mengajarinya membentak orang tua, Togar?”ucap Ibu Weni dengan setengah jengkel.
“Omong kosong! Bapak tidak pernah mengajari kami ...”
“Lalu mengapa kau mencuri, Anna?” aku memotong kalimat Anna, menatapnya kecewa.
“Abang.. Anna tidak ..”
“Kita boleh kehilangan orang tua, keluarga, harta, semuanya. Tapi kita tidak boleh kehilangan kejujuran, betapapun nyawa adalah taruhannya, betapapun nasib hakim yang jujur harus berakhir tragis. Apa kau tidak ingat mengapa Ayah dibunuh, mengapa rumah kita dibom? karena Ayah mempertahankan kejujuran, menolak sogokan Si Tubuh Gempal dan temannya untuk memenangkan persidangan mereka. Apa kau lupa itu, Manna Tandzilul Jannah? Apa kau lupa, hah?! Atau jangan-jangan kau tidak pernah memahami?!” Lagi. Dengan sesak, aku memotong kalimat Anna.
“Bukankah.. bukankah.. Abang juga yang mengajariku untuk tidak kehilangan kepedulian, betapapun kita kehilangan semuanya? bukankah tidak seharusnya kehilangan membuat kita berhenti untuk peduli? Kita boleh kehilangan, tapi jangan sesekali menjadi penyebab siapapun mengalami kehilangan, bukan? Seperti.. seperti.. lelaki bertubuh gempal dan temannya yang membuat kita kehilangan semuanya.” kalimat Anna terhenti. Ia menggigit bibir, menahan tangis. Dengan sesegukan ia melanjutkan kalimatnya, “Kucing itu, Abang.. Kucing itu mempunyai lima anak yang harus diberi makan, sepulang menjual koran tadi, aku melihat anak-anaknya kelaparan. Bukankah siang tadi.. siang tadi.. aku telah merebut jatah makannya. Kalau anak-anaknya mati, aku akan menjadi penyebab induk kucing itu kehilangan mereka.” Hening. Hanya ada tangis Anna yang pecah di ujung kalimat. Sepersekian detik, tangis lain menyusul, tangis Ibu Weni.
Anakmu benar, Togar. Aku yang keliru, aku sungguh keliru. Aku tidak mau mendengarkan penjelasan anak ini. Anak ini meminta baik-baik makanan sisa itu, tapi aku menuduhnya sebagai anak yang sama dengan anak yang telah mencuri kemarin siang. Ternyata pencuri itu anak yang berbeda, entah siapa, yang pasti sekarang aku yakin bukan anakmu, Togar.”
“Gadis ini telah mengoyak sisi keegoisanku, Togar. Bisa-bisanya aku membiarkan seorang anak kelaparan dan yang terjadi akhirnya adalah ia mencuri. Selama ini aku tidak pernah peduli pada sekitar, aku egois.” Berkali-kali Ibu Weni menundukkan wajah, mengusap ingus dengan lengan baju. Suaranya bergetar melanjutkan kalimatnya. Kali ini ia bergantian menatapku dan Anna.
“Hal paling menyedihkan di dunia ini bukan ketika kita kehilangan segalanya, tapi ketika kita tidak lagi memiliki nilai-nilai kehidupan, membunuhnya dengan kejam.”
“Jadilah seorang anak yang diharapkan oleh ayahnya, menebar rasa manis dari nilai-nilai kehidupan untuk sesama. Semanis Manna dari syurga.”
Malam semakin kelam, rembulan mengulum senyum di antara bintang-bintang yang termenung. Pelukan Ibu Weni mendarat di tubuhku dan Manna.
***
Epilog
Mensyukuri kenyataan jauh lebih mendamaikan jiwa dari pada marah marah tidak jelas. Menjadikannya pembelajaran jauh lebih bijak dari pada menyumpahinya. Kalau kita bisa menerimanya dengan hati yang dalam dan lapang, betapapun kenyataan menghujamkan anak panahnya, maka tidak akan berpengaruh apapun pada kejernihan jiwa.
Kini gadis kecilku tumbuh mengagumkan. Usianya 15 tahun, namun pemahamannya lebih dewasa ketimbang usianya. Setiap hari Jum’at rumah makan ibu Weni dipenuhi celoteh anak-anak, dengan mulut penuh makanan mereka berceletuk, “Masakan kak Manna enak, kami juga tak perlu membayarnya.”
Dengan mata berbinar Ibu Weni berbisik padaku, “Dari tangannya, dapur ini tidak hanya melahirkan masakan yang memenuhi kebutuhan perut, lebih dari itu ia  melahirkan manisnya kebahagiaan yang memenuhi kebutuhan hati. Berbagi lebih nikmat dari sepiring nasi itu sendiri.”

TAMAT

Ditulis oleh : Rinai

Note : 
Bagi yang belum membaca part I dan part II, klik link dibawah ya...


7 komentar:

  1. Aku terinspirasi untuk menulis cerpen jg

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas tanggapannya
    Untuk cerpen selanjuntnya mohon bersabar ya
    untuk minggu ini saatnya Biografi Mufassir

    Sukses untuk kalian !!

    BalasHapus
  3. Bener bener keren ceritanya , bisa menjadi motivasi bagi kedepannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih :D

      Semoga menjadi inspirasi untuk meraih kesuksesan di masa mendatang..

      Hapus