Ibu berbadan penuh lemak itu menarik lengan Anna
kasar. Aku terperanjat.
“Lepaskan Anna. Jangan
sakiti dia!”
Tarikannya terhenti dan
ia menatapku, menyeringai.
“Bagaimana bisa aku
melepaskan seorang pencuri? Aku tidak habis fikir, bagaimana bisa Togar mengangkat
anak tanpa mendidiknya?”
Aku balas menatapnya,
meyelidik.
“Aku abangnya. Jelaskan
apa yang terjadi!”
Belum habis pembicaraan
kami, lelaki bertubuh tegap yang sedari tadi berdiri di pintu tanpa kami sadari
menyapa hangat ibu berbadan penuh lemak.
“Malam, Ibu Weni. Mari
masuk di gubuk kami.”
Mendengar namanya, aku
ingat dia adalah pemilik rumah makan di dekat persimpangan jalan. Tanpa
menghiraukan tawaran Bapak, Ibu Weni langsung menceracau.
“Hei, Togar! Apa kau
tidak mendidik anak ini, hah?! Kau tahu apa yang telah dilakukannya? Anak ini
mencuri makanan di ....”
“Itu makanan sisa, dan
aku tidak mencurinya!” Belum habis penjelasan Ibu Weni, dengan sesegukan dan
setengah berteriak, Anna membela dirinya.
“Apa kau mengajarinya
membentak orang tua, Togar?”ucap Ibu Weni dengan setengah jengkel.
“Omong kosong! Bapak tidak pernah mengajari kami ...”
“Lalu mengapa kau
mencuri, Anna?” aku memotong kalimat Anna, menatapnya kecewa.
“Abang.. Anna tidak ..”
“Kita boleh kehilangan
orang tua, keluarga, harta, semuanya. Tapi kita tidak boleh kehilangan
kejujuran, betapapun nyawa adalah taruhannya, betapapun nasib hakim yang jujur
harus berakhir tragis. Apa kau tidak ingat mengapa Ayah dibunuh, mengapa rumah
kita dibom? karena Ayah mempertahankan kejujuran, menolak sogokan Si Tubuh
Gempal dan temannya untuk memenangkan persidangan mereka. Apa kau lupa itu, Manna
Tandzilul Jannah? Apa kau lupa, hah?! Atau jangan-jangan kau tidak pernah
memahami?!” Lagi. Dengan sesak, aku memotong kalimat Anna.
“Bukankah.. bukankah.. Abang
juga yang mengajariku untuk tidak kehilangan kepedulian, betapapun kita
kehilangan semuanya? bukankah tidak seharusnya kehilangan membuat kita berhenti
untuk peduli? Kita boleh kehilangan, tapi jangan sesekali menjadi penyebab
siapapun mengalami kehilangan, bukan? Seperti.. seperti.. lelaki bertubuh
gempal dan temannya yang membuat kita kehilangan semuanya.” kalimat Anna
terhenti. Ia menggigit bibir, menahan tangis. Dengan sesegukan ia melanjutkan
kalimatnya, “Kucing itu, Abang.. Kucing itu mempunyai lima anak yang harus
diberi makan, sepulang menjual koran tadi, aku melihat anak-anaknya kelaparan.
Bukankah siang tadi.. siang tadi.. aku telah merebut jatah makannya. Kalau
anak-anaknya mati, aku akan menjadi penyebab induk kucing itu kehilangan mereka.”
Hening. Hanya ada tangis Anna yang pecah di ujung kalimat. Sepersekian detik,
tangis lain menyusul, tangis Ibu Weni.
“Anakmu benar,
Togar. Aku yang keliru, aku sungguh keliru. Aku tidak mau mendengarkan
penjelasan anak ini. Anak ini meminta baik-baik makanan sisa itu, tapi aku
menuduhnya sebagai anak yang sama dengan anak yang telah mencuri kemarin siang.
Ternyata pencuri itu anak yang berbeda, entah siapa, yang pasti sekarang aku
yakin bukan anakmu, Togar.”
“Gadis ini telah mengoyak
sisi keegoisanku, Togar. Bisa-bisanya aku membiarkan seorang anak kelaparan dan
yang terjadi akhirnya adalah ia mencuri. Selama ini aku tidak pernah peduli
pada sekitar, aku egois.” Berkali-kali Ibu Weni menundukkan wajah, mengusap
ingus dengan lengan baju. Suaranya bergetar melanjutkan kalimatnya. Kali ini ia
bergantian menatapku dan Anna.
“Hal paling menyedihkan
di dunia ini bukan ketika kita kehilangan segalanya, tapi ketika kita tidak
lagi memiliki nilai-nilai kehidupan, membunuhnya dengan kejam.”
“Jadilah seorang anak
yang diharapkan oleh ayahnya, menebar rasa manis dari nilai-nilai kehidupan
untuk sesama. Semanis Manna dari syurga.”
Malam semakin kelam,
rembulan mengulum senyum di antara bintang-bintang yang termenung. Pelukan Ibu
Weni mendarat di tubuhku dan Manna.
***
Epilog
Mensyukuri kenyataan jauh
lebih mendamaikan jiwa dari pada marah marah tidak jelas. Menjadikannya
pembelajaran jauh lebih bijak dari pada menyumpahinya. Kalau kita bisa
menerimanya dengan hati yang dalam dan lapang, betapapun kenyataan menghujamkan
anak panahnya, maka tidak akan berpengaruh apapun pada kejernihan jiwa.
Kini gadis kecilku tumbuh
mengagumkan. Usianya 15 tahun, namun pemahamannya lebih dewasa ketimbang
usianya. Setiap hari Jum’at rumah makan ibu Weni dipenuhi celoteh anak-anak,
dengan mulut penuh makanan mereka berceletuk, “Masakan kak Manna enak, kami
juga tak perlu membayarnya.”
Dengan mata berbinar Ibu
Weni berbisik padaku, “Dari tangannya, dapur ini tidak hanya melahirkan masakan
yang memenuhi kebutuhan perut, lebih dari itu ia melahirkan manisnya kebahagiaan yang memenuhi
kebutuhan hati. Berbagi lebih nikmat dari sepiring nasi itu sendiri.”
TAMAT
Ditulis oleh : Rinai
Bagi yang belum membaca part I dan part II, klik link dibawah ya...
Aku terinspirasi untuk menulis cerpen jg
BalasHapusAku tunggu cerpen selanjutnya
BalasHapusTerimakasih atas tanggapannya
BalasHapusUntuk cerpen selanjuntnya mohon bersabar ya
untuk minggu ini saatnya Biografi Mufassir
Sukses untuk kalian !!
Bener bener keren ceritanya , bisa menjadi motivasi bagi kedepannya
BalasHapusTerimakasih :D
HapusSemoga menjadi inspirasi untuk meraih kesuksesan di masa mendatang..
Amin.....
BalasHapusAmin.....
BalasHapus