Selasa, 21 November 2017

MAHASISWA VS DIGITAL WORLD



OLEH: MISBAHUL WANI
misbahul.wani@gmail.com

Sekilas Kisah Nyata Pengaruh Berkembangnya Teknologi di Masyarakat.
Dalam kehidupan dunia semakin dewasa ini, kita saksikan kemajuan yang sangat pesat dan luar biasa. Seperti halnya perkembangan teknologi ditubuh masyarakat. Teknologi  sangat memberikan pengaruh terhadap perkembangan kehidupan manusia, baik secara individu maupun secara sosial. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia terwakili dengan kecanggihan-kecanggihan dan media yang serba instant. Sekali lagi karena di pengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih dengan sejuta tawaran kemudahan dan kecepatan luar biasa (Instant).
Hari ini, antara kehidupan dunia nyata dan kehidupan dunia digital hampir tidak bisa dipisahkan. Pasalnya dunia digital sudah dijadikan sebuah media yang mewakili segala kebutuhan kehidupan manusia sehari-hari.  Bagaimana tidak penulis mengatakan hampir tidak bisa dipisahkan, Seperti contoh hadirnya sebuah televisi, hampir ditemukan dalam setiap rumah warga. Bahkan ada pemuda namanya Muammar mengatakan: televisi dijaman sekarang wajib punya, demi menghindari ketertinggalan informasi, lebih-lebih yang terkait dengan isu-isu Agama Islam dibelahan dunia luar. Artinya segala informasi membuat mereka seakan-akan berfikir dan bisa menjelajah dunia dengan luas. Karena dengan televisi itu mereka melewati lompatan-lompatan lebih jauh untuk bisa memperkaya informasi.
Jadi penulis tidak heran bila Dr. Rhenald kasali Guru Besar UI dalam sebuah artikelnya “Dunia Nyata vs Dunia Digital” beranggapan bahwa dunia nyata dan dunia digital tidak bisa dipisahkan. Contoh lain adalah pengaruh teknologi pada masyarakat agraris. Hampir 70% petani yang ada di sekitar daerah pedesan, tepatnya desa kajjan, “salah satu desa kecil dikabupaten Bangkalan” sekarang tidak lagi membajak sawah dan perkebunan mereka menggunakan alat tradisional, yaitu dua pasang sapi dan diantara dua sapi tersebut ada sebuah kayu yang dilengkapi dengan alat tajam pembajaknya di bawah. Masyarakat setempat menyebutnya (slageh dan nanggeleh). Slageh, yaitu sebuah alat pembajak untuk mengupas dan mengangkat tanah agar menjadi tanah yang baru. Sedangkan nanggeleh, yaitu sebagian dari alat membajak juga, namun fungsinya untuk menghaluskan dan meratakan  tanah yang sudah dibajak tersebut. Perubahan cara hidup petani tersebut sekitar 8 tahun yang lalu atau mulai awal tahun 2008. Sekarang mereka beralih ke mesin pembajak modern seperti Quick dan lain-lain.

MAHASISWA VS DIGITAL WORLD
Sumber: Dokumen Pribadi

Dalam sebuah perjalanan hidup tidak akan lepas dari istilah bahasa ‘Roda berputar’, ada saatnya di atas ada saatnya dibawah, ada saatnya pelantikan, ada saatnya menyerahkan jabatan, dan seterusnya seperti iu. Tergantung bagaimana kita mengidentifikasi diri agar tidak terjerumus dalam hal yang negatife dan berlebihan dalam menyikapi segala hal.
Sebenarnya tulisan ini berangkat dari keresahan yang terjadi disekitar saya. Daerah akademik dengan fasilitas Network of Internet yang cukup mewadahi. Sekan-akan segala hal yang kita inginkan bisa kita akses dan kita raih. Karena disini penulis hidup dilingkungan akademik dan kota besar, istimewa lagi. Haha….
Menggunakan sesuatu yang baru seyogyanya bukan hal yang hina atau tidak boleh, bahkan itu sangat baik. Karena perkembangan zaman tidak bisa kita tutup mata; sekan-akan tidak tahu-manahu. Justru kita harus menyesuaikan diri agar tetap bertahan dan melawan bila ada ketidaksesuaian.
          Melihat fenomena yang terjadi dilingkungan saya saat ini, hampir semua teman-teman saya mencukupkan segala urusannya dengan dunia digital atau lebih jelasnya medsos. Seperti halnya budaya kumpul besama, baik mengerjakan tugas kelompok, diskusi bareng, maupun urusan organisasai, kini lebih di alokasikan ke medsos. Seakan-akan sebuah permasalahan selesai di dalam dunia digital tadi atau salah satu teman saya Valina Cantika Raga menyebutnya (Rembukan Online).

IBADAH ONLINE
          Bukan hanya persoalan Rembukan Online  itu yang terjadi, kembali ke sejarah perkembangan teknologi, saat Instagram pertama kali menampilkan sebuah kolom Histori, begitu saya menyebutnya, aplikasi lainnya ikut berbondong-bondong memperbaharui produk aplikasinya, seperti Facebook, disusul Facebook Lite, WhatsApp, BBM dan medsos yang lain. Upaya ini dilakukan agar produk aplikasinya laku di gunakan. Sehingga tidak jarang para pengguna mengisi kolom histori tersebut dengan seunik dan se-kreatif mungkin. Seakan-akan berlomba-lomba lebih baik dalam menampikan sebuah status mereka. Suasana ini menurut saya masih baik karena dibalik fasilitas tersebut mereka menyebarkan pengalaman baik mereka dan status-status yang menginspirasi tentunya. Akan tetapi seiring perkembangan waktu ada hal yang saya pandang sangat berlebihan dan tidak wajar. Yaitu mengungkapkan sesuatu yang bersifat spiritual yang seharusnya dihdapkan pada Tuhan, namun oleh mereka di cantumkan ke medsos mereka. Setelah saya bertanya, tapi saya tidak sebutkan namanaya, dia beralasan “agar yang baca bisa doa juga dengan baca itu, iya kan???”. Begitu kata (dia).
          Misalnya, mereka menulis: “Ya Tuhan!!! Berikan kemudahan hari ini pada saya, aamiin…”, atau lebih ekstrim lagi “bolehkah saya menangis Tuhan?.” Secara implisit ungkapan ini tidak jadi masalah, namun yang menjadi sebuah pertanyaan, apakah dengan begitu dapat menyelesaikan masalah? Jangan-jangan malah nambah masalah? Entahlah!
Abu al-A’la al-Ma’ari (pujangga filsuf 363-449 H) mengatakan:
 (اذاما عراكم حادث فتحدثوا # فان حديث القوم ينسي المصائبا)
“Jika kalian dirudung masalah maka cobalah beramah-tamah (ngobrol), bukankah keindahan kata-kata dapat menghilangkan pengalaman pahit yang nyata?.”
          Sederhana yang saya pahami dari syair tersebut, namun cukup memberikan sindiran pada saya pribadi. Jika dikontekstualisasikan dengan problem diatas, setidaknya jika dirundung masalah jangan terlalu lama dipendam diri, ungkapkan pada orang yang dipercaya, terutama bagi yang masih memiliki orang tua atau saudara maupun teman yang dipercaya, dengan begitu siapa tahu mereka bisa memberikan sebuah jalan keluar. Tapi kita perlu bijak apa yang semestinya kita ungkapkan.
Kalau penulis boleh meminjam istilah orang bijak menurut Gus Mus adalah:
“Orang bijak mengetahui apa yang dibicarakan,
 dimana bericara,
dan dengan siapa berbicara”
Baik lah, Seterusnya, jika liat lafadz syair tadi, jangan sampai salah memberikan pengertian pada lafad “فتحدثوا”, yaitu memiliki arti berceritalah (ngobrollah) kalau bahasa sekarang. Bukan buat status yang cukup memprihatinkan, dengan harapan agar ada yang menanggapi dan mendoakan atas kesedihannya. Tapi luapkanah perasaan sedih  tersebut pada orang yang terpercaya atau telepon sekalian. Selanjutnya berdoalah pada Tuhan dilembah sujudmu (yaitu di mesjid) memohon jalan keluar atas musibah yang menimpa bukan di WhatsApp, Instagram, Facebook dan sebagainya. Begitu juga dengan bersyukur, tuangkan rasa syukurmu pada Tuhan yang memberikan nikmat kepada kita disana. insyaAllah isi medsosnya akan terisi sejuta motivasi bukan sedih hati maupun berbangga diri.

 “TULISLAH ILMU WALAUPUN SATU KALIMAT”
(PROF. DR. MUHAMMAD CHIRZIN)



Penulis,      

Yogyakarta, 18 oktober 2017

Minggu, 04 Juni 2017

Puisi Ramadhan

INDAH RAMADHAN

Ada sekuntum hari
Wanginya mengharumi bumi
Saat itulah kemurahan sang Khalik berlimpah
Menyatu pada segala inti hidup

Adalah Ramadhan
Ia bertelaga bening
Airnya mutiara maghfirah
Gerincingnya dzikir dan tadarus
Tepiannya doa lemah lembut, llirih dan pasrah
Siapa tak ingin jadi ikannya?
Mari berenang dengan kesunyian nafsu
Agar setiap sirip kita tak patah sia-sia

Ia rahasia
Tak sekedar lapar dahaga
Tapi itulah sesungguhnya hakikat cinta
Dan salah satu cara bertegur sapa dengan Allah
Karena dengan lapar dan haus
Kita lebih bisa menyadari bahwa kita tak berpunya
Bisa lebih memahami
Bahwa kita tak lebih dari sebutir debu
Diantara keMaha luasan-Nya
Ia sepantasnya dirindukan
Karena ia lebih


Lubuk Ramadhan

Semerbak aroma hembusan suasana Ramadhan
Lantunan ayat suci yang merangkul lubuk hati
Kau bangkitkan makhluk bumi
Tuk menikmati indahnya langit malam

Cahaya-Mu yang maha terang
Menuntunku menyambut datangnya Ramadhan
                                          Alunan Qur’an-Mu begitu anggun 
Merasuk masuk dalan setiap lubuk
                                                               
Seluruh makhluk bersujud
Menyembah sang maha Satu
Mengadu dikala tahajjud
Mengharap ridho-Mu wahai Tuhanku

Merajut setiap keping kalbu berjatuh
Tuk jadi indah sebuah hati yang utuh
Menata hati terbimbang terpendam
Menyambut bulan penuh keberkahan

 by Amalia Nurtika