Runtuh
Punggungmu adalah pertanda
Awan hitam akan muncul di batas
retina
Mengundang gemuruh di dada
Bulir air pecah di kelopak mata
Langkahmu adalah pertanda
Langit hatiku kan runtuh dengan
segera
Malam
Bagimu aku sunyi
Sedang bagiku kau adalah sepi
Meski antara kau dan aku
Berada dalam satu dimensi ruang dan
waktu
Namun kita tetap malam
Saling diam
Catur
Lawan aku!
Akan kutunjukkan bagaimana hitam
putih telah kubaiat
8x8 telah kudaulat
Kupastikan kau akan skak mat!
Ramai
Pada tatap matamu
Aku tidak tahu
Harus sedalam apa kuterjemahkan
kesepian
Saat hidup serupa kematian
Sekarat di ujung keheningan
Andai kau tahu
Betapa teduh matamu itu
Kau senantiasa meramaikan doaku
Menang
Maaf, aku telah lancang melawanmu
Mengajakmu bertaruh tentang masa
depan
Mengajakmu berjudi tentang
kemenangan
Kau, adalah kekalahan yang akan
kupastikan
Pulang
Aku akan pulang
Setelah tanganku memeluk bumi
Setelah mataku menelanjangi langit
Setelah nafasku meyelami lautan
Dan setelah aku menyadari
kepulanganku adalah hal yang paling kau tunggu
Bu, jangan menangis
Aku tidak akan lagi-lagi
membiarkanmu sendiri
Hujan
Jika kau masih ingin mencariku
Carilah aku di reruntuhan rinai
Jika kau tak menemukanku
Aku telah pamit
Menjelma wangi hujan
Peduli
Dengan kata yang tak mampu kuucap
Dengan bisu yang bercengkerama di
ujung lidahku
Dengan kelu yang melumpuhkan pita
suaraku
Aku peduli padamu
Betapapun rasa tak sanggup menjelma
kata
Aku peduli padamu, sungguh.
penulis : el kamaly