Peristiwa demi peristiwa membuat hari-hariku berisis jadwal nelangsa. Caci maki
seolah menjadi melodi yang selalu ku nikmati, sumpah serapah seolah menjadi nyanyian
penghibur hati, aku bak cadas yang dihantam ombak, terhempas.
***
Gerimis semalam masih meyisakan genangan, di kaki langit Timur matahari timbul
tenggelam, enggan menampakkan diri. Kicau burung menyayat hati mencari raksasa hijau,
namun lagi-lagi kawanan burung itu hanya menemukan bangunan kotak yang menjulang
tinggi ke langit kota yang kotor dan semakin kotor sebab muram. Wajar, sebab makhluk
menyeramkan yang bernama Homo Sapiens hanya bisa merusak tatanan ekosistem dan
sumber daya alam.
Aku menatap nanar sekitar. Kalimat-kalimat Ayah semalam dan isak tangis Ibu selalu
menghantui hari-hariku. Tak terkecuali pagi ini. Pertengkaran mereka bak sembilu merobekrobek ulu hati. Melirik pergelangan tangan, arloji terus berdetak detik demi detik dalam nafas
masa. 10 menit berlalu, jarum arloji menunjukkan pukul 07.00, bus yang kutunggu akhirnya
tiba. Terlambat tiba di sekolah sudah menajadi kebiasaanku semenjak Ayah dan Ibu
seringkali bertikai. Ocehan satpam menjadi sarapan setiap hari.
***
Sepasang kaki gemetar menahan sesak, terduduk dalam balutan seragam lusuh biru
putih, aku hanya bisa tergugu di depan pintu rumah. Lagi. Untuk kesekian kalinya, wanita
bertubuh ringkih itu terkulai dengan pelipis lebam membiru, retinanya merah merana.
Meyadari kehadiranku, ia buru-buru menyeka pipi, senyum tangguh merekah dari bibirnya,
mendekat dan menatapku penuh permohonan maaf. Aku... aku bangkit, mundur perlahan.
Pergi dengan perasaan perih.
Aku berjalan gontai di bawah terik matahari bersama debu, asap, dan deru mesin
kendaraan yang merajai siang. Pandanganku tertuju pada seorang anak berseragam merah
putih yang menaruh harapan pada Tuhan melalui koran di sudut lampu lalu lintas
persimpangan jalan seberang sana. Pemandangan yang biasa. Hampir saja kulepaskan
pandangan, tiba-tiba seseorang mendekat dan duduk di samping anak dengan seragam merah
putih itu. Aku tertegun dibuatnya, ia mengeluarkan bingkisan nasi dari plastik hitam, makan
siang bersama anaknya di pinggir jalan, sesekali anak itu disuapinya. Aku termenung, ada
rasa iri terbesit di kedalaman hati. Butir bening kembali jatuh merengkuh pipi.
Matahari perlahan mulai tumbang di kaki langit Barat, aku terus menyusuri jalanan,
tidak peduli pada tujuan. Dan tiba-tiba tubuhku melayang, semua terlihat gelap.
***
Gelap. Retinaku tak kunjung menemukan cahaya. Di tengah kesulitan membuka
kelopak mata, seseorang berteriak parau.
“Dokter, dokter. Jemari pasien bergerak.”
Dadaku membuncah. Suara itu sama paraunya dengan seseorang yang berteriak
meminta tolong pasca sebuah sedan hitam menghantam tubuhku.
“Tolong.. bawa anak ini ke rumah sakit! Masukkan ke dalam mobilku! Masukkan
segera!”
***
Di beranda sebuah rumah panggung yang tak jauh dari pantai angin malam menyapu
wajah. Berkali-kali wanita setengah baya di sampingku menyingkap anak rambut yang
menggangu pandangannya.
“Nek..”
“Iya, Sam.”
“Apa aku nakal?”
“Tidak.” Gerakan wanita setengah baya itu terhenti, ia menatapku.
Aku tertunduk dalam-dalam, “Apa aku nakal, Nek?”
Wanita setengah baya yang kupanggil „Nek‟ itu terkekeh, “Apa Nenek harus
mengulanginya, Sam?”
Aku menunduk lebih dalam, butiran bening jatuh perlahan, “Lalu mengapa Ayah dan
Ibu bertengkar, mengapa caci maki saling terlontar, haruskah perpisahan menjadi jalan
keluar?”
Hening. Aku menggigit bibir, terisak menahan sesak.
“Haruskah malam-malamku bersisi sumpah serapah Ayah? Haruskah tidurku
dininabobokan dengan isak tangis Ibu?”
“Supir Nenek berbaik hati menabrakku, seharusnya nenek biarkan saja aku sekarat di
jalan. Sungguh, aku lebih rela dari pada harus pulang ke rumah.”
Wanita setengah baya itu mengusap wajah, menghela nafas, dan memperbaiki posisi
duduknya.
“Apa kau akan terus menyalahkan keadaan, Sam? Apa kau akan terus mencaci maki
kenyataan?” Pahit manis kehidupan adalah suatu kesatuan, tidak bisa terpisahkan. Tapi tidak
mengapa, itu adalah tanda hidup yang sempurna. Pahit manisnya nikmat saja, karena
peristiwa selalu menyimpan hikmah, tugas kita adalah menemukan dan belajar darinya.”
“Kenapa hidup tidak adil?”
“Bukan hidup yang tidak adil, Sam. Hanya saja fikiran kita yang terbatasi rasa ketidak
adilan yang kita ciptakan sendiri. Lihatlah kepayahan dari sudut pandang dan pemahaman
yang berbeda, agar kita paham, setiap peristiwa mengandung hikmah. Kita tidak bisa
melupakan segala karunia-Nya hanya karena ujian menyapa.”
“Tidakkah Tuhan tahu, ujian-Nya di luar batas kesanggupanku?”
“Besok usai shubuh bisakah engkau ikut Nenek? Akan Nenek tunjukkan sesuatu
padamu.”
***
Lembut pasir pantai menggoda telapak kaki, angin pantai pagi tak kalah menggigilnya
dengan angin semalam. Fajar di cakrawala menghadirkan siluet yang mempesona, dercakdercak jingganya menghiasi angkasa raya, salah satu lukisan Illahi yang mempesona.
“Lima menit lagi, Sam. Lima menit lagi. Setelah matahari terbit. Kau harus
melihatnya. Kau harus melihatnya.” Aku tersenyum menatap Nenek. Di usianya yang senja,
ia memiliki semangat hidup yang hebat.
Di kaki langit timur matahari perlahan menampakkan diri. Permukaan laut terlihat
keemasan. Elok sekali. Lama menikmati sunrise, aku menatap sekeliling. Jari jemari kakiku
dikejutkan oleh sesuatu yanng bergerak-gerak.
“TUKIK!” Seruku terperanjat. Ratusan tukik merangkak menuju lautan.
“Kau tahu, Sam. Tukik-tukik ini harus berjuang sendirian menuju lautan, melanglang
buana di luasnya samudera, juga sendirian. Tanpa Ayah, tanpa Ibu. Tak sedikit dari mereka
yang berakhir dengan cara dimangsa predator. Tapi mereka percaya. Mereka percaya bahwa
mereka mampu, terlepas dari bagaimana pun akhir hidup mereka.”
“Jika tukik-tukik itu saja percaya bahwa dirinya mampu melanglang buana di luasnya
samudera, menantang ombak dan marabahaya. Lalu bagaimana dengan kau yang Samudera
itu sendiri?”
Aku menatap Nenek penuh rasa terima kasih. Ada butir bening hangat merengkuh
pipi. Nenek memelukku erat.
-TAMAT-
Ditulis oleh : Rinai

