Jumat, 17 Februari 2017

Aku (Bukan) Samudera


Prolog

Peristiwa  demi  peristiwa  membuat  hari-hariku  berisis  jadwal  nelangsa.  Caci  maki 
seolah  menjadi  melodi  yang  selalu  ku  nikmati,  sumpah  serapah  seolah  menjadi  nyanyian 
penghibur hati, aku bak cadas yang dihantam ombak, terhempas.
***

Gerimis semalam masih meyisakan  genangan, di kaki langit Timur matahari timbul 
tenggelam,  enggan  menampakkan  diri.  Kicau  burung  menyayat  hati  mencari  raksasa  hijau, 
namun  lagi-lagi  kawanan  burung  itu  hanya  menemukan  bangunan  kotak  yang  menjulang 
tinggi  ke  langit  kota  yang  kotor  dan  semakin  kotor  sebab  muram.  Wajar,  sebab  makhluk 
menyeramkan  yang  bernama  Homo  Sapiens  hanya  bisa  merusak  tatanan  ekosistem  dan 
sumber daya alam.

Aku menatap nanar sekitar. Kalimat-kalimat Ayah semalam dan isak tangis Ibu selalu 
menghantui hari-hariku. Tak terkecuali pagi ini. Pertengkaran mereka bak sembilu merobekrobek ulu hati. Melirik pergelangan tangan, arloji terus berdetak detik demi detik dalam nafas 
masa. 10 menit berlalu, jarum arloji menunjukkan pukul 07.00, bus yang kutunggu akhirnya 
tiba.  Terlambat  tiba  di  sekolah  sudah  menajadi  kebiasaanku  semenjak  Ayah  dan  Ibu 
seringkali bertikai. Ocehan satpam menjadi sarapan setiap hari.
***

Sepasang  kaki  gemetar  menahan  sesak,  terduduk  dalam  balutan  seragam  lusuh  biru 
putih, aku hanya bisa  tergugu di depan pintu rumah.  Lagi. Untuk kesekian kalinya, wanita 
bertubuh  ringkih  itu  terkulai  dengan  pelipis  lebam  membiru,  retinanya  merah  merana. 
Meyadari  kehadiranku, ia buru-buru menyeka pipi, senyum tangguh merekah dari  bibirnya, 
mendekat  dan  menatapku  penuh  permohonan  maaf.  Aku...  aku  bangkit,  mundur  perlahan. 
Pergi dengan perasaan perih.

Aku  berjalan  gontai  di  bawah  terik  matahari  bersama  debu,  asap,   dan  deru  mesin 
kendaraan  yang  merajai  siang.  Pandanganku  tertuju  pada  seorang  anak  berseragam  merah 
putih  yang  menaruh  harapan  pada  Tuhan  melalui  koran  di  sudut  lampu  lalu  lintas 
persimpangan  jalan  seberang  sana.  Pemandangan  yang  biasa.  Hampir  saja  kulepaskan 
pandangan, tiba-tiba seseorang mendekat dan duduk di samping anak  dengan seragam merah 
putih itu. Aku tertegun dibuatnya, ia mengeluarkan bingkisan nasi dari plastik hitam, makan 
siang  bersama  anaknya  di  pinggir  jalan,  sesekali  anak  itu  disuapinya.  Aku  termenung,  ada 
rasa iri terbesit di kedalaman hati. Butir bening kembali jatuh merengkuh pipi. 
Matahari perlahan mulai tumbang di kaki langit Barat, aku terus menyusuri jalanan, 
tidak peduli pada tujuan. Dan tiba-tiba tubuhku melayang, semua terlihat gelap.
***

Gelap.  Retinaku  tak  kunjung  menemukan  cahaya.  Di  tengah  kesulitan  membuka 
kelopak mata, seseorang berteriak parau.
“Dokter, dokter. Jemari pasien bergerak.”
Dadaku  membuncah.  Suara  itu  sama  paraunya  dengan  seseorang  yang  berteriak 
meminta tolong pasca sebuah sedan hitam menghantam tubuhku.
“Tolong..  bawa  anak  ini  ke  rumah  sakit!  Masukkan  ke  dalam  mobilku!  Masukkan 
segera!”
***

Di beranda sebuah rumah panggung yang tak jauh dari pantai  angin malam menyapu 
wajah.  Berkali-kali  wanita  setengah  baya  di  sampingku  menyingkap  anak  rambut  yang 
menggangu pandangannya.
“Nek..”
“Iya, Sam.”
“Apa aku nakal?”
“Tidak.” Gerakan wanita setengah baya itu terhenti, ia menatapku.
Aku tertunduk dalam-dalam, “Apa aku nakal, Nek?”
Wanita  setengah  baya  yang  kupanggil  „Nek‟  itu  terkekeh,  “Apa  Nenek  harus 
mengulanginya, Sam?”
Aku menunduk lebih dalam, butiran bening jatuh perlahan, “Lalu mengapa Ayah dan 
Ibu  bertengkar,  mengapa  caci  maki  saling  terlontar,  haruskah  perpisahan  menjadi  jalan 
keluar?”
Hening. Aku menggigit bibir, terisak menahan sesak.
“Haruskah  malam-malamku  bersisi  sumpah  serapah  Ayah?  Haruskah  tidurku 
dininabobokan dengan isak tangis Ibu?”
“Supir  Nenek berbaik hati menabrakku, seharusnya nenek biarkan saja aku sekarat di 
jalan. Sungguh, aku lebih rela dari pada harus pulang ke rumah.”
Wanita setengah baya itu mengusap wajah, menghela nafas, dan memperbaiki posisi 
duduknya.
“Apa kau akan terus menyalahkan keadaan, Sam?  Apa  kau akan terus mencaci maki 
kenyataan?”  Pahit manis kehidupan adalah suatu kesatuan, tidak bisa terpisahkan. Tapi tidak 
mengapa,  itu  adalah  tanda  hidup  yang  sempurna.  Pahit  manisnya  nikmat  saja,  karena 
peristiwa selalu menyimpan hikmah, tugas kita adalah menemukan dan belajar darinya.”
“Kenapa hidup tidak adil?”
“Bukan hidup yang tidak adil, Sam. Hanya saja fikiran kita yang terbatasi rasa ketidak 
adilan  yang  kita  ciptakan  sendiri.  Lihatlah  kepayahan  dari  sudut  pandang  dan  pemahaman 
yang  berbeda,  agar  kita  paham,  setiap  peristiwa  mengandung  hikmah.  Kita  tidak  bisa 
melupakan segala karunia-Nya hanya karena ujian menyapa.”
“Tidakkah Tuhan tahu, ujian-Nya di luar batas kesanggupanku?”
“Besok  usai  shubuh  bisakah  engkau  ikut  Nenek?  Akan  Nenek  tunjukkan  sesuatu 
padamu.”
***

Lembut pasir pantai menggoda telapak kaki, angin pantai pagi tak kalah menggigilnya 
dengan  angin  semalam.  Fajar  di  cakrawala  menghadirkan  siluet  yang  mempesona,  dercakdercak jingganya menghiasi angkasa raya, salah satu lukisan Illahi yang mempesona.
“Lima  menit  lagi,  Sam.  Lima  menit  lagi.  Setelah  matahari  terbit.  Kau  harus 
melihatnya. Kau  harus melihatnya.”  Aku tersenyum menatap Nenek.  Di  usianya yang senja, 
ia memiliki semangat hidup yang hebat.
Di  kaki  langit  timur  matahari  perlahan  menampakkan  diri.  Permukaan  laut  terlihat 
keemasan.  Elok  sekali.  Lama  menikmati sunrise,  aku menatap sekeliling.  Jari  jemari  kakiku 
dikejutkan oleh sesuatu yanng bergerak-gerak.
“TUKIK!” Seruku terperanjat. Ratusan tukik merangkak menuju lautan.
“Kau tahu, Sam. Tukik-tukik ini harus berjuang sendirian menuju lautan,  melanglang 
buana di luasnya samudera, juga sendirian.  Tanpa  Ayah, tanpa Ibu.  Tak  sedikit dari mereka 
yang berakhir dengan cara dimangsa predator. Tapi mereka percaya.  Mereka  percaya bahwa 
mereka mampu, terlepas dari bagaimana pun akhir hidup mereka.”
“Jika tukik-tukik itu saja percaya bahwa dirinya mampu melanglang buana di luasnya 
samudera, menantang ombak dan marabahaya.  Lalu  bagaimana dengan kau yang Samudera 
itu sendiri?”
Aku  menatap  Nenek  penuh  rasa  terima  kasih.  Ada  butir  bening  hangat  merengkuh 
pipi. Nenek memelukku erat.


-TAMAT- 



Ditulis oleh : Rinai

Jumat, 03 Februari 2017

Rindu di Negeri Elisabeth (Bagian 1)


Gower Street, London, kota yang dingin. Bukan masalah besar kalau saja penghangat ruangan itu tidak rusak. Tidak mudah beradaptasi di negeri Ratu Elisabeth. Atmosfer di negeri ini berbeda dengan atmosfer di negeri khatulistiwa.
Hujan turun lagi. Rinainya seolah menertawakan setiap jiwa yang merindu surya. Sesekali kubalas tatapan sinis hujan dari balik tirai. Andai saja hujan tak datang, pasti saat ini aku sedang asyik menyusuri kota.
            Sebelumnya aku berfikir bisa menjelajah negara yang berjuluk "The Black Country" dalam waktu singkat. Ternyata, tiga bulan terakhir aku hanya berhasil mengunjungi National Gallery. Aku masih berhutang pada museum itu. Karya Rubens, Van Dyck, Rembrandt, dan Carabanggio sama sekali belum teraba oleh mataku. Tugas dari Prof. Aubrev merampas waktuku untuk menjelajahi tanah yang pernah dikuasai Bangsa Norman ini. Masalahnya bukan seberapa banyak tugas yang harus aku selesaikan. Tapi kehadiran Prof. Aubrev yang sulit ditemukan membuat tugasku tak kunjung usai. Hampir setiap hari aku harus mengelilingi kampus hanya untuk mencari Prof. Aubrev, hingga terkadang aku tergoda untuk berputus asa.
            Aku merasa tidak berbeda berada di dalam atau di luar apartemen. Sama saja dinginnya. Tubuhku yang menggigil berlindung dalam dekapan hangat coat hitam.

            Berbeda dengan Elisa Gosling, gadis yang tinggal bersamaku. Ia terlihat akrab dengan atmosfer negeri ini. Tentu saja, ini adalah tanah kelahirannya. Terkadang aku iri dengannya. Bukan karena wajah jelitanya yang tirus, atau karena matanya yang biru. Tapi karena tubuhnya yang selalu bisa menyatu dengan udara yang mengelilinginya. Sedangkan aku selalu saja kerepotan untuk merengkuh oksigen di negara empat musim ini.
            "Na, mau makan apa siang nanti?" tanya gadis yang mengenakan training dan t-shirt merah muda itu sembari menyodorkan segelas susu hangat kepadaku.
            "Entahlah," jawabku.
            "Ke Ledbury saja bagaimana? Sekalian mampir ke London Eye."
            "Hujan lho," ujarku seraya mengerutkan dahi.
            "Ya siapa yang tahu menjelang siang hujan reda," tukas Elisa.
            Aku hanya mengangguk dan meneguk segelas susu pemberiannya.
******
            Jalanan masih basah. Aromanya yang khas menyusup ke dalam kerongkongan. Tapi semua itu tak menyurutkan niat orang-orang untuk melanjutkan aktifitasnya.
            Aku dan Elisa menyusuri jalanan, melewati permukiman penduduk yang menuntun kami menuju Castle Street. Berbelok menuju lorong kecil di antara himpitan gerbang berkarat yang terlihat rapuh, tapi sungguh lebih kokoh daripada tiang-tiang penyangga di seberangnya.
            "Bagaimana dengan tugas yang diberikan Prof. Aubrev?" tanya Elisa.
            "Aku belum berhasil menemuinya," jawabku dengan suara yang terdengar parau.
            "Aku mengenal salah satu mahasiswa tahun ketiga. Kelihatannya dia cukup akrab dengan Prof. Aubrev. Kau mau aku perkenalkan dengannya? Siapa tahu dia bisa membantumu," jelas Elisa.
            Aku tak bergeming.
            "Diiing, dooong, diiing, dooong....." Suara lonceng Big Ben menggema hingga sudut kota. Andai lonceng itu bisa menjawab tumpukan tanya di otakku tentang waktu. Aku pasti selalu menghampirinya.
******
            Ledbury mempersembahkan sajian terbaiknya. Racikan bumbu roast meats masih melekat di lidahku. Aku dan Elisa kembali menyusuri kota, melewati beberapa jajaran toko souvenir khas London, seperti phone box, tower bridge, big ben dan lainnya. Lalu lalang masyarakat berkulit putih dan deretan toko itu melunakkan suasana hatiku. Elisa menggandeng tanganku, menyebrangi jalanan, membelah kerumunan mobil yang terhenti sejenak, menunggu rambu lalu lintas memperbolehkan mereka kembali melintas di atas aspal basah itu.
******
            Tangis langit telah reda. Arak-arak mendung berhasil disapu angin timur, meski tidak sepenuhnya. Aku memandang dari ujung tertinggi kincir terbesar kedua di dunia itu. Begitu mempesona kota yang dihiasi berbagai bangunan legendaris itu.
            Istana Buckingham terlihat kokoh dan tegas melindungi Ratu Elisabeth II di dalamnya. Westminster Abbey terlihat penuh historis. Tentu saja, itu adalah tempat penobatan seluruh keluarga Kerajaan Inggris sejak tahun 1066. Ditambah menara jam besar, Big Ben, yang berdiri tegak di sampingnya.
            Gedung Gherkin tampak menjulang, mencakar langit. Bentuknya yang seperti mentimun mengingatkan dengan asinan yang biasa menemani waktu istirahatku dulu. Penantian yang panjang ternyata tak mengecewakan. London membalas dengan suguhan pesonanya.
            Di sebelah tenggara aku menatap sungai Thames tampak tenang mempersilahkan kapal pesiar berlayar di punggungnya. Tower Bridge sejak 1894 dengan bangga berdiri di antara kepungan arusnya.
            Pemandangan ini mengirim ingatanku pada masa lalu tentang sahabat kecilku yang entah dimana keberadaannya. Aku selalu bertanya-tanya akankah saat ini dia menjejak di tanah impiannya juga? Negeri Seribu Satu Larangan, Singapura, itulah negeri impiannya.
            Aku sangat mengagumi sahabat kecilku. Usianya yang sangat belia tak menjadi penghalang untuk melukis mimpi setinggi atap dunia.
******
            "Aku ingin belajar di Singapura. Di sana kotanya bersih, rapih dan disiplin. Aku ingin seperti papa yang menjadi mahasiswa di Singapore Institute of Management." Celotehan itu masih terasa hangat di telingaku. Aku selalu mengacungkan kedua jempolku saat ia menempelkan mimpi-mimpi itu pada dinding kamarnya. Meski saat itu aku tidak tahu sama sekali tentang makna mimpi-mimpinya.
            Sepuluh tahun yang lalu, ia berpindah sekolah. Aku tidak tahu apa penyebabnya saat itu. Aku juga tidak tahu kemana ia pergi. Yang aku tahu, setelah itu tidak ada lagi perjumpaan antara kami.
            "Natasha, Natasha, kamu sakit? Kenapa diam saja?" Elisa melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Menyadarkan aku yang terlalu lama kembali ke masa lalu.
******
            Aku terlambat bangun pagi itu. Sebenarnya aku masih ingin bermanja di bawah selimut biru kesayanganku. Tapi, lagi-lagi aku teringat tumpukan tugas dari Prof. Aubrev. Semoga saja Prof. Aubrev datang hari ini, batinku.
******
            Nafasku tersenggal. Aku sangat lelah mengelilingi kampus ini. Ditambah lagi kekesalanku karena Prof. Aubrev baru saja berlalu sepuluh menit sebelum kedatanganku di kantornya. Aku bersandar di bawah naungan ranting-ranting yang rindang. Berharap angin siang membawa pergi kelelahan dan kekesalanku. Aku memejamkan mata. Mendengar udara yang perlahan menenangkan jiwaku.
            "Natasha, Natasha....." Seruan khas itu mengusir belaian ramah oksigen di sekitarku. Tentu saja itu Elisa, fikirku sebelum membuka mata.
            Elisa melangkah ke arahku bersama seorang laki-laki yang sedikit lebih tinggi darinya. Aku tidak mengenalnya.
            "Kamu kenapa disini sendirian?" tanya Elisa dengan memperlihatkan aksen Irlandianya.

Aku menggeleng kecil.
            "Oh ya, perkenalkan ini sahabatku, Natasha Shea Mollica," jelas Elisa kepada lelaki yang duduk di sampingnya.
            "Na, perkenalkan ini Devian Alfred. Yang aku janjikan untuk memperkenalkan denganmu," jelas Elisa kepadaku.
            Aku menatap lelaki itu saat ia membenarkan posisi kacamatanya.
            "Oh ya Na, dia dari Indonesia juga, sama seperti kamu," terang Elisa lagi.
            "Apa yang bisa saya bantu?" tanya lelaki itu tanpa sedikitpun mengedarkan pandangan ke arahku.
            "Sahabatku kesulitan menemui Prof. Aubrev. Bolehkah aku meminta bantuanmu?" Elisa menjelaskan permasalahanku.
            Devian tampak akrab dengan permasalahanku. Terlihat dari raut wajahnya yang datar mendengar pinta gadis berambut pirang itu.
******
            Keramaian ibu kota, London, berlalu untuk beberapa waktu. Hamparan lahan hijau memanjakan mataku. Aku menuju Northampton untuk menyelesaikan tugas atas perintah Prof. Wilson.
            Tugas dari Prof. Aubrev telah selesai sekitar empat bulan yang lalu. Tentu saja atas bantuan Devian. Aku sangat berterimakasih kepadanya. Andai saja jarak London dan Northampton tidak begitu jauh, aku bersedia untuk menunda perjalanan ini. Besok adalah hari wisuda Devian sekaligus hari kepulangannya ke tanah air. Aku sangat ingin bertemu dengannya di hari itu, sekedar mengucap terimakasih dan salam perpisahan. Tapi ternyata waktu tidak mengizinkan aku untuk melakukannya.
            Tugas dari Prof. Wilson memang bukan hal yang sulit. Hanya perlu menghadiri seminar yang diadakan University of Northampton. Aku tidak akan mengeluh jika Prof. Wilson memberikan informasi jauh-jauh hari kepadaku. Aku juga takkan mengeluh jika pencarianku terhadap Devian pagi itu bukan menjadi hal yang sia-sia.
******
            University of Northampton tidak kalah megahnya dengan universitasku. Aula besar yang dihiasi beragam lukisan khas Inggris terpampang di penjuru ruangan. Guratan senyum Ratu Elisabeth di dalam lukisan terlihat ramah membalas tatapanku.
            Mataku sibuk menelusuri setiap sudut ruangan. Suasananya tidak jauh berbeda dengan tempatku menimba ilmu, University College London. Mataku terkunci pada sosok gadis yang berdiri di dekat pendingin ruangan. Aku merasa khas dengan lesung pipi dan mata sipitnya. Aku mencoba menggali ingatanku tentang perjumpaan dengannya. Namun, aku tetap tak berhasil mengingatnya.
            "Na, ayo cari tempat duduk. Kenapa malah berdiri disini?" Panggilan Mae membuyarkan perhatianku.
            Aku tersenyum.
            "Jane dimana?" tanyaku.
            Mae menunjuk ke salah satu kerumunan. Aku melihat Jane sedang tertawa bersama teman-temannya yang menurutku berasal dari universitas ini.
            Aku mencoba mencari lagi sosok yang sejenak hilang dari pengamatanku. Hasilnya nihil. Kerumunan itu berhasil mengacaukan pencarianku.
******
            Seminar ini memang berbeda dengan seminar yang biasa aku hadiri sebelumnya. Sambutan guru besar dari berbagai universitas terbaik di dunia membuatku bergetar.
            Telingaku menangkap percakapan Jane dan teman-temannya yang duduk di sampingku, bahwa sambutan selanjutnya berasal dari salah satu mahasiswi kebanggan universitas ini. Aku terperangah saat mendengar bahwa ia telah menyabet gelar sarjana di salah satu universitas ternama di Singapura dalam waktu cukup singkat. Dan dalam waktu kurang dari dua tahun ia hendak menyelesaikan gelar megister di Eropa. Dua bulan lagi adalah hari wisudanya di universitas ini. Aku tidak sabar ingin melihat sosok jenius itu.
            Dunia seperti terhenti dan terlepas dari porosnya saat pembawa acara itu membacakan nama dari sosok jenius yang aku nantikan. Nabilah Grishilde Arabella. Hampir saja aku menjerit jika tidak menekan mulutku dengan kedua tanganku. Bella, begitulah kebanyakan orang memanggilnya.
            Dia gadis keturunan Belanda dan Indonesia. Dia adalah sahabat yang selama ini selalu aku rindukan. Air mata mengalir hangat di pipiku saat gadis berlesung pipi itu berjalan dengan anggun menuju podium. Aku ingin berteriak bangga, menunjukkan kepada semua yang ada di ruangan itu bahwa dia adalah sahabat kecilku.
            Senyum yang khas mengawali sambutannya. Aku terpaku dan terus menyalahkan diriku sendiri. Ternyata gadis yang memiliki lesung pipi dan mata sipit itu adalah sahabat kecilku, Bella. Bagaimana bisa aku lupa pada sosok yang sangat aku rindukan.
            Ternyata waktu membalas tangisanku sepuluh tahun yang lalu. Waktu memiliki rencana yang sangat indah untuk. Aku berjanji tidak akan mengutuk waktu lagi, batinku.
            Air mata belum berhenti membasahi pipiku. Mataku tidak bisa menjelaskan kenapa air mata terus saja mengalir. Tapi, hatiku mampu menjawab perasaanku saat itu. Aku bahagia.
******


Oleh : Lailatur Rahma

Kunjungi juga lailaturrahma18.blogspot.co.id