Melihat kondisi Indonesia dewasa ini, UKT nampaknya menjadi masalah serius yang harus kita garis bawahi. Benar, penyebaran UKT (virUs Kabar Tak
jelas) kian hari makin merajalela di negeri ini. Berita-berita
yang bersifat provokatif semakin meluber kemana-mana, membuat bangsa ini
semakin terkotak-kotak serta saling sikut satu sama lain. Toleransi yang sudah
terjalin lama terancam runtuh akibat berita-berita tersebut. Hal tersebut
tentunya sangat berbahaya dan berpotensi merusak persatuan bangsa.
Cepatnya
penyebaran berita tersebut tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi, seperti adanya jaringan internet dan smartphone. Berita-berita
teraktual dapat dengan mudah disebar dan diterima dalam hitungan detik. Selain
itu, komunikasi antar manusia yang tak lagi
terpisah antara jarak dan waktu, sehingga kita dapat dengan mudah bertukar
informasi. Apalagi dengan adanya aplikasi jejaring sosial seperti WhatsApp, Line,
dan Facebook, kita menjadi semakin mudah untuk berbagi banyak hal dengan teman
maupun orang asing.
Sayangnya
dibalik kecanggihan tersebut, banyak orang yang memanfaatkannya untuk menyebarkan
berita-berita palsu yang dapat menimbulkan keresahan maupun konflik. Ditambah lagi
banyak pembuat berita hoax yang
mengatasnamakan instansi maupun pribadi terkenal, sehingga masyarakat
dengan mudah percaya dengan berita tersebut. Selain itu, pembuat berita hoax
biasanya juga menyisipkan foto yang telah diedit, sehingga semakin membuat
pembaca yakin akan kebenaran berita tersebut.
Sebenarnya,
Al-Qur’an pun telah memperingatkan kita untuk mengklarifikasi kebenaran suatu
berita sebelum mempercayainya, hal tersebut terdapat dalam Qur’an surat
Al-Hujurat ayat 6-8 yang berbunyi :
يآأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا
فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6) وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ
يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ لأمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ
إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ افِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ
الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلا
مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8)
“Hai orang-orang yang
beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah
dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan
ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan)
kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi
Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam
hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan
kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai
karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”
Banyak ulama
tafsir yang menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Walid
ibnu Uqbah ibnu Abu Mu'it ketika dia diutus oleh Rasulullah Saw. untuk memungut
zakat orang-orang Banil Mustaliq. Hal ini telah diriwayatkan melalui berbagai
jalur, dan yang terbaik ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di
dalam kitab musnadnya melalui riwayat pemimpin orang-orang Banil Mustaliq,
yaitu Al-Haris ibnu Abu Dirar, orang tua Siti Juwariyah Ummul Mu’minin r.a.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sabiq,telah
menceritakan kepada kami Isa ibnu Dinar, telah menceritakan kepadaku ayahku,
bahwa ia pernah mendengar Al-Haris ibnu Abu Dirar Al-Khuza'i r.a. menceritakan
hadis berikut: Aku datang menghadap kepada Rasulullah Saw. Beliau menyeruku
untuk masuk Islam, lalu aku masuk Islam dan menyatakan diri masuk Islam. Beliau
Saw. menyeruku untuk zakat, dan aku terima seruan itu dengan penuh keyakinan.
Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku akan kembali kepada mereka dan akan
kuseru mereka untuk masuk Islam dan menunaikan zakat. Maka barang siapa yang
memenuhi seruanku, aku kumpulkan harta zakatnya; dan engkau, ya Rasulullah,
tinggal mengirimkan utusanmu kepadaku sesudah waktu anu dan anu agar dia
membawa harta zakat yang telah kukumpulkan kepadamu. Setelah Al-Haris
mengumpulkan zakat dari orang-orang yang memenuhi seruannya dan masa yang telah
ia janjikan kepada Rasulullah Saw. telah tiba untuk mengirimkan zakat
kepadanya, ternyata utusan dari Rasulullah Saw. belum juga tiba. Akhirnya
Al-Haris mengira bahwa telah terjadi kemarahan Allah dan Rasul-Nya terhadap
dirinya. Untuk itu Al-Haris mengumpulkan semua orang kaya kaumnya, lalu ia
berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah menetapkan
kepadaku waktu bagi pengiriman utusannya kepadaku untuk mengambil harta zakat
yang ada padaku sekarang, padahal Rasulullah Saw. tidak pernah menyalahi janji,
dan aku merasa telah terjadi suatu hal yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka.
Karena itu, marilah kita berangkat menghadap kepada Rasulullah Saw. (untuk
menyampaikan harta zakat kita sendiri). Bertepatan dengan itu Rasulullah Saw.
mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepada Al-Haris untuk mengambil harta zakat yang
telah dikumpulkannya. Ketika Al-Walid sampai di tengah jalan, tiba-tiba hatinya
gentar dan takut, lalu ia kembali kepada Rasulullah Saw. dan melapor kepadanya,
"Hai Rasulullah, sesungguhnya Al-Haris tidak mau memberikan zakatnya
kepadaku, dan dia akan membunuhku." Mendengar laporan itu Rasulullah Saw.
marah, lalu beliau mengirimkan sejumlah pasukan kepada Al-Haris. Ketika
Al-Haris dan teman-temannya sudah dekat dengan kota Madinah, mereka berpapasan
dengan pasukan yang dikirim oleh Rasulullah Saw. itu. Pasukan tersebut melihat
kedatangan Al-Haris dan mereka mengatakan, "Itu dia Al-Haris," lalu
mereka mengepungnya. Setelah Al-Haris dan teman-temannya terkepung, ia
bertanya, "Kepada siapakah kalian dikirim?" Mereka menjawab,
"Kepadamu." Al-Haris bertanya, "Mengapa?" Mereka menjawab,
"Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepadamu,
lalu ia memberitakan bahwa engkau menolak bayar zakat dan bahkan akan
membunuhnya. Al-Haris menjawab, "Tidak, demi Tuhan yang telah mengutus
Muhammad Saw. dengan membawa kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya
dan tidak pernah pula kedatangan dia." Ketika Al-Haris masuk menemui
Rasulullah Saw., beliau bertanya, "Apakah engkau menolak bayar zakat dan hendak
membunuh utusanku?" Al-Haris menjawab, "Tidak, demi Tuhan yang telah
mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku belum melihatnya dan tiada seorang
utusan pun yang datang kepadaku. Dan tidaklah aku datang melainkan pada saat
utusan engkau datang terlambat kepadaku, maka aku merasa takut bila hal ini
membuat murka Allah danRasul-Nya." Al-Haris melanjutkan kisahnya, bahwa
lalu turunlah ayat dalam surat Al-Hujurat ini, yaitu: Hai orang-orang yang
beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita (Al-Hujurat:
6) sampai dengan firman-Nya: lagi Mahabijaksana. (Al-Hujurat: 8)[1]
Ayat diatas
dengan jelas manghimbau kepada kita untuk mengklarifikasi kebenaran suatu
berita sebelum mempercayainya, terlebih lagi jika berita tersebut disampaikan
oleh orang fasik. Selain itu, hendaknya kita jangan tergesa-gesa dalam
mengambil keputusan. Khalid Al-Burmaki berkata, “Barangsiapa yang dapat
menahan dirinya dari empat perkara maka dia layak untuk tidak terjangkiti dosa
besar yang dibenci; tergesa-gesa, keras kepala, sombong, dan lemah[2].”
Ucapan Khalid
Al-Burmaki menunjukkan bahwa ketergesa-gesaan adalah dosa besar yang dibenci.
Mengapa ? Karena buah dari ketergesa-gesaan hanyalah penyesalan. Banyak sekali
perselisihan yang terjadi diantara teman, sahabat, saudara atau anak-anak hanya
karena kabar bohong tanpa adanya klarifikasi dan pembenaran. Banyak perceraian
suami istri hanya karena kabar burung yang tidak jelas kebenarannya. Banyak
perang yang menyebabkan ribuan nyawa tak bersalah melayang, hanya karena kabar
bohong yang belum jelas kebenarannya.
Dari uraian
diatas tentunya dapat disimpulkan bahwa maraknya berita hoax yang tersebar
dewasa ini sangat berbahaya bagi masyarakat Indonesia. Berita provokatif yang
berlandasarkan kepentingan pribadi maupun golongan berpotensi memecah belah
toleransi yang sudah lama terjalin. Oleh karena itu, kita selayaknya lebih
berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mempercayai suatu berita, dan juga
mengklarifikasi kebenarannya. Namun di zaman sekarang sangat sulit untuk mengklarifikasi
kebenaran suatu berita, dikarenakan penulis dapat dengan mudah menyembunyikan
atau merekayasa identitasnya. Apalagi kalau berita tersebut dikirim secara
berantai melalui pesan broadcast dan sebagainya. Kita akan semakin sulit untuk
melacak penulis aslinya, dan mengklarifikasi kebenaran berita tersebut. Selain
itu, semakin sedikitnya sumber maupun media yang dapat dipercaya semakin
menyulitkan kita untuk meklarifikasi kebenaran suatu berita.
Oleh karena
itu, untuk sedikit menanggulangi penyebaran berita hoax, berikut beberapa tips
untuk mendeteksi berita hoax[3].
1. Berhati-Hati dan Tidak Asal Share
Berita hoax biasanya bersifat provoaktif dan tidak asal dibuat.
Biasanya, ada bergam kepentingan dibalik berita tersebut, baik untuk
menjatuhkan atau mendukung sesuatu. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati
dan tidak asal share suatu berita.
Selain itu, kita perlu melakukan cross check terlebih
dahulu mengenai kebenaran berita tersebut. Salah satu caranya adalah dengan elakukan
pencarian di mesin pencari seperti Google. Lalu,
cek apakah berita tersebut ditulis oleh situs berita lain dan pastikan situs
tersebut terpercaya.
2. Cek Domain dan URL Situs
Situs abal-abal semakin merajalela dan sulit untuk dibendung. Untuk
itu, kita sebagai masyarakat pengguna internet juga harus jeli. Untuk
mengetahui berita asli atau hoax, kita dapat melakukan pengecekan pada
domain situs dan URL berita tersebut. Kita harus
mengecek apakah situs tersebut menggunakan URL yang benar. Pastikan pula apakah
berita tersebut bersumber dari situs yang bermutu atau tidak.
3. Cek Keaslian Foto
Berita hoax seringkali menggunakan foto yang telah diedit untuk
memprovokasi pembacanya. Jadi kita jangan langsung percaya apalagi jika foto
tersebut tidak masuk akal. Jadi untuk mengecek keaslian foto tersebut, kita
dapat menggunakan 'Google Images'. Caranya, buka Google
Image pada browser, kemudian drag foto
tersebut ke kolom pencarian Google Image. Kemudian periksa hasilnya untuk
mengetahui secara lebih jelas sumber dan caption asli dari
foto tersebut.
Cara-cara
diatas tentunya belum cukup untuk menanggulangi berita hoax sepenuhnya. Namun
setidaknya kita dapat sedikit mengurangi penyebaran berita hoax dikalangan
teman, saudara maupun keluarga, sehingga kita dijauhkan dari hal-hal yang tidak
diinginkan akibat penyebaran berita palsu yang memicu konflik dan perpecahan.
[1] Tafsir
Ibnu Katsir
[2] Tafsir
Ayat-Ayat Yaa Ayyuhal-Ladziina Aamanuu
[3] Sumber :
www.jalantikus.com

