Rabu, 25 Januari 2017

Pukul Mundur UKT


Melihat kondisi Indonesia dewasa ini, UKT nampaknya menjadi masalah serius yang harus kita garis bawahi. Benar, penyebaran UKT (virUs Kabar Tak jelas) kian hari makin merajalela di negeri ini. Berita-berita yang bersifat provokatif semakin meluber kemana-mana, membuat bangsa ini semakin terkotak-kotak serta saling sikut satu sama lain. Toleransi yang sudah terjalin lama terancam runtuh akibat berita-berita tersebut. Hal tersebut tentunya sangat berbahaya dan berpotensi merusak persatuan bangsa.
Cepatnya penyebaran berita tersebut tak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, seperti adanya jaringan internet dan smartphone. Berita-berita teraktual dapat dengan mudah disebar dan diterima dalam hitungan detik. Selain itu, komunikasi antar manusia yang tak lagi  terpisah antara jarak dan waktu, sehingga kita dapat dengan mudah bertukar informasi. Apalagi dengan adanya aplikasi jejaring sosial seperti WhatsApp, Line, dan Facebook, kita menjadi semakin mudah untuk berbagi banyak hal dengan teman maupun orang asing.
Sayangnya dibalik kecanggihan tersebut, banyak orang yang memanfaatkannya untuk menyebarkan berita-berita palsu yang dapat menimbulkan keresahan maupun konflik. Ditambah lagi banyak pembuat berita hoax yang  mengatasnamakan instansi maupun pribadi terkenal, sehingga masyarakat dengan mudah percaya dengan berita tersebut. Selain itu, pembuat berita hoax biasanya juga menyisipkan foto yang telah diedit, sehingga semakin membuat pembaca yakin akan kebenaran berita tersebut.
Sebenarnya, Al-Qur’an pun telah memperingatkan kita untuk mengklarifikasi kebenaran suatu berita sebelum mempercayainya, hal tersebut terdapat dalam Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6-8 yang berbunyi :
يآأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6) وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ لأمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ افِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7) فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (8)

 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”
Banyak ulama tafsir yang menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Walid ibnu Uqbah ibnu Abu Mu'it ketika dia diutus oleh Rasulullah Saw. untuk memungut zakat orang-orang Banil Mustaliq. Hal ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur, dan yang terbaik ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya melalui riwayat pemimpin orang-orang Banil Mustaliq, yaitu Al-Haris ibnu Abu Dirar, orang tua Siti Juwariyah Ummul Mu’minin r.a. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sabiq,telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Dinar, telah menceritakan kepadaku ayahku, bahwa ia pernah mendengar Al-Haris ibnu Abu Dirar Al-Khuza'i r.a. menceritakan hadis berikut: Aku datang menghadap kepada Rasulullah Saw. Beliau menyeruku untuk masuk Islam, lalu aku masuk Islam dan menyatakan diri masuk Islam. Beliau Saw. menyeruku untuk zakat, dan aku terima seruan itu dengan penuh keyakinan. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku akan kembali kepada mereka dan akan kuseru mereka untuk masuk Islam dan menunaikan zakat. Maka barang siapa yang memenuhi seruanku, aku kumpulkan harta zakatnya; dan engkau, ya Rasulullah, tinggal mengirimkan utusanmu kepadaku sesudah waktu anu dan anu agar dia membawa harta zakat yang telah kukumpulkan kepadamu. Setelah Al-Haris mengumpulkan zakat dari orang-orang yang memenuhi seruannya dan masa yang telah ia janjikan kepada Rasulullah Saw. telah tiba untuk mengirimkan zakat kepadanya, ternyata utusan dari Rasulullah Saw. belum juga tiba. Akhirnya Al-Haris mengira bahwa telah terjadi kemarahan Allah dan Rasul-Nya terhadap dirinya. Untuk itu Al-Haris mengumpulkan semua orang kaya kaumnya, lalu ia berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah menetapkan kepadaku waktu bagi pengiriman utusannya kepadaku untuk mengambil harta zakat yang ada padaku sekarang, padahal Rasulullah Saw. tidak pernah menyalahi janji, dan aku merasa telah terjadi suatu hal yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka. Karena itu, marilah kita berangkat menghadap kepada Rasulullah Saw. (untuk menyampaikan harta zakat kita sendiri). Bertepatan dengan itu Rasulullah Saw. mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepada Al-Haris untuk mengambil harta zakat yang telah dikumpulkannya. Ketika Al-Walid sampai di tengah jalan, tiba-tiba hatinya gentar dan takut, lalu ia kembali kepada Rasulullah Saw. dan melapor kepadanya, "Hai Rasulullah, sesungguhnya Al-Haris tidak mau memberikan zakatnya kepadaku, dan dia akan membunuhku." Mendengar laporan itu Rasulullah Saw. marah, lalu beliau mengirimkan sejumlah pasukan kepada Al-Haris. Ketika Al-Haris dan teman-temannya sudah dekat dengan kota Madinah, mereka berpapasan dengan pasukan yang dikirim oleh Rasulullah Saw. itu. Pasukan tersebut melihat kedatangan Al-Haris dan mereka mengatakan, "Itu dia Al-Haris," lalu mereka mengepungnya. Setelah Al-Haris dan teman-temannya terkepung, ia bertanya, "Kepada siapakah kalian dikirim?" Mereka menjawab, "Kepadamu." Al-Haris bertanya, "Mengapa?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepadamu, lalu ia memberitakan bahwa engkau menolak bayar zakat dan bahkan akan membunuhnya. Al-Haris menjawab, "Tidak, demi Tuhan yang telah mengutus Muhammad Saw. dengan membawa kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan tidak pernah pula kedatangan dia." Ketika Al-Haris masuk menemui Rasulullah Saw., beliau bertanya, "Apakah engkau menolak bayar zakat dan hendak membunuh utusanku?" Al-Haris menjawab, "Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku belum melihatnya dan tiada seorang utusan pun yang datang kepadaku. Dan tidaklah aku datang melainkan pada saat utusan engkau datang terlambat kepadaku, maka aku merasa takut bila hal ini membuat murka Allah danRasul-Nya." Al-Haris melanjutkan kisahnya, bahwa lalu turunlah ayat dalam surat Al-Hujurat ini, yaitu: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita (Al-Hujurat: 6) sampai dengan firman-Nya: lagi Mahabijaksana. (Al-Hujurat: 8)[1]
Ayat diatas dengan jelas manghimbau kepada kita untuk mengklarifikasi kebenaran suatu berita sebelum mempercayainya, terlebih lagi jika berita tersebut disampaikan oleh orang fasik. Selain itu, hendaknya kita jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Khalid Al-Burmaki berkata, “Barangsiapa yang dapat menahan dirinya dari empat perkara maka dia layak untuk tidak terjangkiti dosa besar yang dibenci; tergesa-gesa, keras kepala, sombong, dan lemah[2].”
Ucapan Khalid Al-Burmaki menunjukkan bahwa ketergesa-gesaan adalah dosa besar yang dibenci. Mengapa ? Karena buah dari ketergesa-gesaan hanyalah penyesalan. Banyak sekali perselisihan yang terjadi diantara teman, sahabat, saudara atau anak-anak hanya karena kabar bohong tanpa adanya klarifikasi dan pembenaran. Banyak perceraian suami istri hanya karena kabar burung yang tidak jelas kebenarannya. Banyak perang yang menyebabkan ribuan nyawa tak bersalah melayang, hanya karena kabar bohong yang belum jelas kebenarannya.
Dari uraian diatas tentunya dapat disimpulkan bahwa maraknya berita hoax yang tersebar dewasa ini sangat berbahaya bagi masyarakat Indonesia. Berita provokatif yang berlandasarkan kepentingan pribadi maupun golongan berpotensi memecah belah toleransi yang sudah lama terjalin. Oleh karena itu, kita selayaknya lebih berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam mempercayai suatu berita, dan juga mengklarifikasi kebenarannya. Namun di zaman sekarang sangat sulit untuk mengklarifikasi kebenaran suatu berita, dikarenakan penulis dapat dengan mudah menyembunyikan atau merekayasa identitasnya. Apalagi kalau berita tersebut dikirim secara berantai melalui pesan broadcast dan sebagainya. Kita akan semakin sulit untuk melacak penulis aslinya, dan mengklarifikasi kebenaran berita tersebut. Selain itu, semakin sedikitnya sumber maupun media yang dapat dipercaya semakin menyulitkan kita untuk meklarifikasi kebenaran suatu berita.
            Oleh karena itu, untuk sedikit menanggulangi penyebaran berita hoax, berikut beberapa tips untuk mendeteksi berita hoax[3].  
1. Berhati-Hati dan Tidak Asal Share
Berita hoax biasanya bersifat provoaktif dan tidak asal dibuat. Biasanya, ada bergam kepentingan dibalik berita tersebut, baik untuk menjatuhkan atau mendukung sesuatu. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan tidak asal share suatu berita.
Selain itu, kita perlu melakukan cross check terlebih dahulu mengenai kebenaran berita tersebut. Salah satu caranya adalah dengan elakukan pencarian di mesin pencari seperti Google. Lalu, cek apakah berita tersebut ditulis oleh situs berita lain dan pastikan situs tersebut terpercaya.
2. Cek Domain dan URL Situs
Situs abal-abal semakin merajalela dan sulit untuk dibendung. Untuk itu, kita sebagai masyarakat pengguna internet juga harus jeli. Untuk mengetahui berita asli atau hoax, kita dapat melakukan pengecekan pada domain situs dan URL berita tersebut. Kita harus mengecek apakah situs tersebut menggunakan URL yang benar. Pastikan pula apakah berita tersebut bersumber dari situs yang bermutu atau tidak.
3. Cek Keaslian Foto
Berita hoax seringkali menggunakan foto yang telah diedit untuk memprovokasi pembacanya. Jadi kita jangan langsung percaya apalagi jika foto tersebut tidak masuk akal. Jadi untuk mengecek keaslian foto tersebut, kita dapat menggunakan 'Google Images'. Caranya, buka Google Image pada browser, kemudian drag foto tersebut ke kolom pencarian Google Image. Kemudian periksa hasilnya untuk mengetahui secara lebih jelas sumber dan caption asli dari foto tersebut.
Cara-cara diatas tentunya belum cukup untuk menanggulangi berita hoax sepenuhnya. Namun setidaknya kita dapat sedikit mengurangi penyebaran berita hoax dikalangan teman, saudara maupun keluarga, sehingga kita dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan akibat penyebaran berita palsu yang memicu konflik dan perpecahan.



[1] Tafsir Ibnu Katsir
[2] Tafsir Ayat-Ayat Yaa Ayyuhal-Ladziina Aamanuu
[3] Sumber : www.jalantikus.com







Jumat, 06 Januari 2017

Prof .Said Agil Hasan Al Munawar MA: Pakar Tafsir Asal Indonesia yang Mengabdikan Hidupnya Untuk Al Quran dan Bangsa


          
            Di zaman yang serba mengandalkan kecanggihan teknologi serta persaingan ekonomi yang terjadi dimana mana ini seakan-akan membuat kehadiran agama kurang diperhatikan oleh masyarakat. Kekaguman terhadap teknologi yang makin baru (update) dan penggunaan media yang semakin marak digunakan seperti menggeser ketertarikan masyarakat untuk lebih mendalami ilmu-ilmu Agama yang tersebar di seluruh Indonesia ini. Al quran terasa kering dirasa !
            Begitulah sekiranya sedikit gambaran dari keprihatinan yang datang dari benak Prof.Said Agil Hasan Munawwar M.A. seorang Pakar Tafsir, sekaligus mantan Menteri Agama asal Kampung Ulu, Palembang. Beliau menjelaskan bahwa Agama memiliki peran dan konstribusi yang penting bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya penyebab terjadinya konflik dan perpecahan yang terjadi di negeri ini disebabkan kedangkalan pemahaman tentang agama yang dimiliki masyarakat itu sendiri.
            Prof.Said Agil Hasan Munawwar adalah seorang ilmuwan muslim yang banyak memberikan konstribusi dan sumbangan bagi kemajuan bangsa ini khususnya dalam bidang pendidikan agama.          


Pendidikan yang Diperoleh

Said Agil Hasan Munawwar adalah seorang ahli tafsir, hadits, fiqh, ushul fiqh , seorang qari, Hafidz Quran, guru besar dan seorang mubaligh yang sudah diakui kadar keilmuannya di tanah Indonesia ini.
            Said Agil menempuh pendidikan tinggi nya di fakultas syariah IAIN Raden Fatah Palembang, dan mendapat beasiswa selama beberapa bulan serta meraih gelar sarjana muda tahun 1974 dengan predikat cumlaude. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Madinah. Waktu itu Raja Faisal yang meninggal pada tahun 1975 menawarkan beasiswa kepada 5 orang di Indonesia dan Said merupakan salah satu dari kelima orang tersebut.
            Merasa belum puas belajar disana, Said melanjutkan pendidikan S2 nya di Universitas King Abdul Aziz di Mekkah (yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Ummu al-Qura). Ujian masuk ke Universitas tersebut sangat ketat namun alhamdulillah Said melewatinya dengan gemilang, ia lulus master of art 1983 dan melanjutkan mengambil S3 atas berbagai pertimbangan dan saran dari guru-gurunya. Akhirnya tahun 1987 ia memperoleh gelar Ph.D dengan spesialis hukum Islam.


Hubungan Erat Antara Said Agil Munawwar dengan Syekh Yasin Al 
Fadani

           Layaknya seorang yang haus terus menerus akan Ilmu, Ketika sedang berada di Mekah, Said tidak melulu belajar di dalam ruang perkuliahan saja. Said terkadang keluar tekun menggali Ilmu dari para syekh dan Habaib yang tidak diragukan lagi kadar keilmuannya di kalangan masyarakat Mekkah pada saat itu. Tokoh-tokoh seperti Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf, sayyid Muhammad bin Alwy Al maliky dan syekh Yasin Al Fadani merupakan sebagian dari sekian banyak guru yang pernah ia gali Ilmunya.
            Diantara kesekian banyak itu Syekh Yasin Al Fadani lah yang dirasa paling erat hubungannya dengan said. Ketika Said agil mengalami kesulitan dalam memahami materi kuiah yang diberikan di kampusnya, ia selalu berlari ke tempat pengajian syekh Yasin al Fadani berada, tentunya untuk meminta pemahaman yang lebih jelas lagi kepada beliau. Kedekatan hubungan yang mereka miliki membuat said agil diminta untuk mengajar di Darul Ulum, yakni madrasah yang syekh Yasin pimpin sendiri, Said mengajar selama 4 tahun disana.
            Syekh Yasin Al Fadani merupakan guru yang sangat ia kagumi, Kadang dalam penelitiannya, Said Agil menemukan hadits-hadits yang ia tak ketahui siapa yang meriwayatkannya. Jika mendapatkan kesulitan seperti itu, Ia segera mendatangi Syaikh Yasin. Dan baru saja duduk, syaikh Yasin sudah tahu.
“Agil ente punya musykilah (kesulitan),ya?”
“Ya, ada hadits-hadits yang belum ditemukan siapa yang meriwayatkannya”
Ia pun membacakan hadits hadits yang dimaksud
“Besok pagi kesini. Nanti malam ana tanya dulu kepada Rasulullah.”
Habib Said Agil kaget mendengarnya. Untuk meyakinkan, Ia bertanya,”Bertanya kepada siapa, Syekh?”
“Kepada Rasulullah” katanya menegaskan
Keesokan harinya ketika ia datang, Syaikh Yasin sudah dapat menyebutkan siapa yang meriwayatkannya dan di kitab apa adanya hadits tersebut.


Pengabdiannya terhadap Bangsa dan Al Quran
            
            Sekembalinya ke Indonesia Said Agil sempat ditawari sebagai Diplomat oleh Duta besar melalui konjen Ahmad Nur. Said Agil tidak langsung menerimanya, Ia berpikir dan bertanya kepada dirinya “ Jika ia menjadi diplomat , mau dikemanakan Ilmunya?”. Setelah berbagai pertimbangan dan masukan termasuk masukan dari menteri Agama pada saat itu ,yakni Munawwir Sadjali-yang seketika pada saat itu menyuruh Said Agil sendiri untuk tidak menerima tawaran tersebut- maka Said Agil pada saat itu dengan tegas menolak tawaran tersebut.
             Menteri Agama memintanya tinggal di Jakarta, lalu mengikuti pendaftaran kepegawaian pada bulan Desember. Bulan Maret SK Kepegawaiannya sudah keluar. Karena yang mengurus Menteri. Pada tahun 1989 ia dipercaya di IAIN Jakarta sebagai dosen tetap untuk memikirkan berdirinya sebuah jurusan baru yaitu Tafsir Hadits. Said Agil ketika itu bersama kawan yang lainnya di IAIN Jakarta bersama-sama mendirikan jurusan Tafsir Hadits di IAIN Jakarta yang pada saat itu belum ada di kawasan kampus.
            Jurusan Tafsir Hadits ini ia pegang dan kembangkan terus hingga menjadi jurusan yang paling diminati di IAIN pada saat itu. Rata-rata lulusan terbaik di kampus berasal dari jurusan ini. Said Agil mengamalkan sepenuhnya Ilmu-ilmu yang ia dapat dari perantauannya di Mekkah, Semangat mengajarnya tak pernah padam, Ulumul Quran yang ia peroleh di Mekkah ia alirkan menuju Indonesia. Di Indonesia, Said Agil merupakan tokoh penting agama khususnya dalam bidang Al Quran yang dikenal oleh banyak kalangan, terutama mahasiswa pada saat ini.
            Sebelum menjadi menteri Agama pada kabinet Gotong Royong, Said pernah menggantikan posisi Harun Nasution sebagai Direktur pascasarjana. Banyak sekali konstribusi yang diberikan said agil bagi kemajuan IAIN Jakarta pada saat itu. Setelah selesai menjabat sebagai Menteri Agama Said agil lebih memfokuskan dirinya mengabdi untuk pendidikan di Indonesia. Said melanjutkan mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia.
            Selain menjadi dosen tetap di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ia juga mengajar di berbagai perguruan tinggi lain seperti dosen pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Imam Bonjol Padang, IAIN Sumatera Barat, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Menjadi Rektor Institut Agama Islam Jami’at khaer (1997) , ketua Jurusan Tafsir Hadits Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran (PTIQ)(tahun 1990-sekarang), dosen di Institut Ilmu Al Quran (IIQ)(tahun 1990-sekarang), Dosen di Darul Ma’rif (tahun1992-sekarang) dan di mahad ali pondok pesantren salafiyah situbondo(1993-sekarang).
            Ilmunya sudah tersebar di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia, Pengabdiannya tidak diragukan, Said Agil orangnya diterima semua golongan, enak untuk diajak bercakap-cakap, lembut, daya hafalan Qurannya benar-benar terjaga, suaranya merdu ,ah,,,.intinya Al Quran serasa hidup jika memandang beliau ini.       
                                                  

 Disusun oleh : Tubagus Syafiq